SECANGGIH APAPUN PERALATAN DAN TEKNOLOGI TETAP SEBUAH ALAT

KOMPETISI TETAP HARUS TERJADI

KREATIVITAS MANUSIA YANG MEMBEDAKANNYA

ADA YANG MENANG DAN KALAH ITU BIASA

MAKNA HIDUP HADIR BILA KITA BERAKTIVITAS

Thursday, September 29, 2011

Daryl Cagle interviews cartoonists Mikhaela Reid and Jen Sorenson, part 1

Pulitzer Prize Winner Jim Morin Combines Art and Politcal Satire-Artstre...

Cartoonist Nate Beeler interviewed by Daryl Cagle

Tuesday, January 18, 2011

How to Analyze Political Cartoons

Caricature by Djoko Susilo
In almost every newspaper around the world, a political cartoon is published that highlights a particular viewpoint or idea through the use of illustration. Often, the image is exaggerated and intended to be humorous as well as informative. They can also be satirical or even serious in tone, depending on the audience, the artist, and the idea illustrated. Use these steps to analyze a political cartoon so you can accurately find what the artist is trying to convey.

1. Let your eyes "float" over the cartoon. Artists know what will capture the mind's attention first. Allow your mind and your eyes to naturally find the portion of the cartoon that most stands out. Most often, this will be a caricature, which is an exaggeration or distortion of a person or object with the goal of providing a comic effect.

2. Follow the cartoon's natural flow by discovering the interaction with the primary focus (found in step 1). If it's a person, whom are they talking to? Where are they standing? If it's an object, what is being done to the object? What is it doing there? Most often, you can look around the immediate vicinity of the primary focus to find what is being described. This is usually an allusion, or an indirect reference to a past or current event that isn't explicitly made clear within the cartoon.

Sunday, January 16, 2011

World Cartoon Contest





Friday, October 15, 2010

Quo Vadis Kartunis Indonesia?

Oleh Darminto M Sudarmo

Kartunis Indonesia, khsususnya angkatan salah satu jejaring sosial periode 2009-2010 telah bergerak menuju sebuah orientasi yang sangat khas dan antikredo. Sebagaimana dipahami sejak kemunculan gerakan kelahirannya , kartunis lahir di dunia langsung membawa fitrah dan amanah dari “Nilai Tertinggi Peradaban”  untuk menjadi “anjing penjaga” yang tugasnya menyalak saat melihat ketidakberesan di tingkat penguasa atau pemegang otoritas tertinggi dari tiap komunitas. Bentuk perlawanan terhadap ketidakberesan itu dapat berupa: bisikan, ledekan, sindiran, bahkan hantaman (tetap dalam koridor estetika yang memadai).
Tugas kartunis juga harus membunyikan genta atau gong kontemplasi ketika pendangkalan nilai terjadi di mana-mana. Tak peduli apakah kartunis itu seorang single fighter atau berbentuk gerombolan.  Tak peduli apakah dia tinggal di gunung atau di kampung kumuh perkotaan. Visi dan misi utamanya adalah memahami dinamika hati nurani rakyat. Apalagi rakyat yang sedang terpinggirkan hak-haknya, rakyat yang sedang bingung melihat campuraduknya nilai, bahkan rakyat yang selalu jadi korban akibat “kedunguan” para pengambil keputusan.
Kartunis yang benar, akan selalu mengasah visi dan orientasi “kecerdasan dan kejelian” dalam mencermati situasi dan kondisi di sekelilingnya. Meski tersirat, ia juga otomatis akan menjadi “juru penunjuk” bagi pembacanya; khususnya dalam melihat nilai. Ada nilai yang berkecenderungan ke hitam, abu-abu atau putih.  Karena kartunis bukan penggambar poster, maka dia tidak mengarahkan apalagi menghakimi sebuah kecenderungan itu menuju kepada nilai hitam, abu-abu atau putih. Kartunis yang beralayar di arus kontemplasi yang benar akan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk berkembang dalam mencermati dan menyikapi apa saja yang ditawarkan kartunis.

Thursday, July 8, 2010

A New Face for Political Cartoonists

Morphing Rolling Stones as painted by Kruger

Tuesday, June 15, 2010

Miliarder Jepang yangTukang Gambar


SECARA naif, kartunis, cergamis, ilustrator, itu tukang gambar. Kerja mereka, ya, menggambar. Hanya saja, kata tukang itu kurang enak untuk dihubungkan dengan kerja kreatif. Apalagi, dalam bahasa Indonesia, kata tukang mengacu pada pengertian: pengulangan dan bersifat kuantitatif.
Ketika pekerjaan membutuhkan visi: kebaruan, eksplorasi dan mengabdi pada sifat kualitatif, maka kata tukang sebaiknya tidak dibawa-bawa. Sebutan paling klop dan enak untuk ini adalah kreator. Timbul pertanyaan, apa pekerjaan kartunis, cergamis dan ilustrator tak ada hubungannya dengan tukang? Atau bisa dijamin pasti mengabdi pada visi: kebaruan, eksplorasi dan kualitas?
Ini dilema menarik sekaligus lucu. Persis teka-teki mengenai kekosongan: di dalam kosong terdapat isi, di dalam isi terdapat kosong. Hemat saya, setiap kreator—terutama bila dikaitkan dengan kasus karya grafis seperti kartun, komik dan ilustrasi—adalah tukang yang bervisi, bereksplorasi dan punya tanggungjawab mutu. Tukang yang tak ada hubungannya dengan ini, ya tukang yang baik hati saja.


AyuWage Services - Get Paid to Visits Sites and Complete Surveys