Wednesday, November 12, 2008
Saturday, November 1, 2008
Garis Singgung

SAUDARA, kolom ini akan mengunjungi Anda terus-menerus, sepanjang hari, sepanjang waktu; eh, maksudnya siap melayani Anda whenever you need; dimaksudkan sebagai klinik mental atau terapi psikologis. Tetapi dijamin tidak ada tendensi menggurui atau memberikan jalan ke luar. Karena itu Anda harus bijak dan pandai-pandai putar otak.
Bila Anda pandai-pandai menyiasati, Anda akan beroleh keuntungan. Tetapi bila sebaliknya, maka hasilnya bisa dipastikan bakal tambah berantakan. Ha-ha!!!
Juga disarankan, bacalah kolom ini ketika Anda dalam keadaan sakit hati. Menyimpan dendam kesumat. Jiwa lungkrah, hati loyo, atau bila mungkin dalam keadaan yang paling fit, atau sangat sehat, atau sangat wal”afiat, atau sangat gembira, atau sangat bahagia, atau sangat tenteram, atau keadaan positif lainnya, maka cepat-cepatlah Anda bikin perkara dengan sekitar Anda, sebelum membaca ini kolom. Supaya apa? Yah, supaya adrenalin Anda naik, supaya daya hidup Anda menggeliat.
Mari kita ngomong soal garis singgung.
Pernahkah Anda membayangkan, berapa juta rakyat negeri ini yang sedang tersinggung pada detik Anda membaca artikel ini? Berapa juta pemimpin negeri ini yang sedang tersinggung pada detik ini juga?
Baiklah itu tidak untuk kita jawab terburu-buru. Persoalan yang ingin dimajukan di sini adalah mengapa mereka bisa tersinggung?
Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh para ahli jiwa raga, dapatlah dideteksi ciri-ciri orang yang gampang tersinggung. Atau paling tidak dalam seharinya pernah menderita penyakit yang bernama tersinggung itu.
Mereka antara lain:
- Orang yang banyak memiliki kesalahan, baik sengaja maupun yang direncanakan.
- Orang yang dalam hidupnya gemar berutang, baik yang gali lobang tutup
lobang maupun yang gali lobang kubur awak sendiri.
- Orang yang gemar melakukan lima M (mencuri, main judi, main perempuan/main laki- laki, membunuh, minum air keras, eh, minuman keras).
- Orang yang gemar sewenang-wenang terhadap sesama.
- Orang yang mementingkan diri sendiri.
- Orang yang terlalu ambisius, suka menjilat atasan-menginjak bawahan dan menginjak- injak HAM.
Indikasi yang bisa dijadikan pedoman, semakin mudah seseorang dihinggapi rasa gampang tersinggung, semakin jelas emosinya yang labil. Kekanakan atau malah tak punya jati diri sama sekali. Orang-orang semacam ini, tidak pantas dijauhi, tetapi harus diakrabi (agar kita ketularan gampang tersinggung? O, bukan!). Agar kita bisa menyinggung mereka lebih leluasa? Juga bukan. Agar kita bisa saling singgung-menyinggung? Bukan juga! Lalu apa dong maksudnya? Ya itu tugas Anda untuk memutar otak biar kita terlihat gagah karena tampak lagi berpikir.
Beberapa akibat setelah orang kemasukan penyakit tersinggung bermacam-macam. Sebagian ada yang buru-buru menghindar, lalu menyakiti diri sendiri nyaris kayak seorang maniak. Sebagian yang lain mencak-mencak dan melakukan agresivitas berlebihan. Misalnya membuang uangnya yang berjumlah ratusan ribu ke jalan raya (bohong). Memecahkan barang-barang pecah belah, seperti piring, gelas, kacamata, pinggan, hiasan-hiasan keramik, kaca jendela, lemari, pintu dan lain-lainnya. Setelah semua barang-barang itu habis, lalu dia pecahkan kepalanya sendiri (juga bohong!).
Dikhawatirkan sekali bila yang tersinggung ini orang-orang yang sedang kuat atau kuasa pada zamannya. Dia bisa melakukan hal-hal yang sangat personal dengan mengaku-aku sebagai tindakan dinas atau resmi atau atas nama negara. Contohnya Kaisar Nero yang membakar kota Roma, atau Hitler yang hipernasionalis lalu berhobi membunuh orang-orang Yahudi. Bahkan di sekitar Anda, bila ada salah seorang warga desa tak mau melakukan kerja bakti karena ada alasan atau keperluan yang sangat prinsip, cepat saja, Pak RT atau Pak RK atau Pak Lurah menuduh yang macem-macem. Yang inilah, yang itulah. Lebih-lebih bila Anda selalu absen setiap ada giliran kerja bakti atau siskamling.
Dan yang paling ajaib, ada seorang bawahan di suatu instansi yang kritis dan cerdas. Dalam setiap rapat pertemuan dia selalu mempertanyakan tanggungjawab secara administratif mengenai penggunaan dana dan lain-lain yang dalam laporan SPJ (Surat Pertanggung Jawaban) selalu tercantum lengkap dan “otentik”, padahal dalam praktiknya tidak ada sama sekali. Sang pimpinan akhirnya tersinggung, meskipun tahu bawahannya benar. Tapi karena sudah terlanjur basah, alangkah berat menarik lidah, apalagi menjilat ludah, lalu dia mengeluarkan power dan kuasanya dengan marah-marah.
Pada kesempatan yang “manis” karena dia kuasa, dikirimlah (baca: dimutasi dengan penuh rasa dongkol) sang bawahan yang membahayakan kedudukannya ini ke sektor dan tempat yang maha sulit dan serba tak berkutik.
Begitulah bila orang tersinggung.
Karena perkara garis singgung pula, ada buruh mogok, ada toko mogok buka, ada koran atau majalah kena breidel, eh mogok terbit, ada karyawan kena PHK, eh mogok dinas. Ada rakyat mogok makan (di Ethiopia), ada gunung mogok bertapa (di Meksiko dan Colombia). Ada penumpang pesawat dibajak, lalu membiarkan dirinya ditembusi peluru oleh pasukan antiteroris. Ada wartawan mogok cari berita, lalu meminta para pejabat mewawancarainya. Pendeknya, segala macam perkara bisa terjadi bila makhluk yang bernama manusia sudah terserang penyakit yang bernama tersinggung.
Bila Anda sendiri yang kena, apa yang akan Anda lakukan?
Sesuai dengan janji pada awal tulisan ini, soal jalan keluar maupun petunjuk tak bakal diberikan, maka soal Anda akan bersikap apa ketika Anda tengah tersinggung, itu sepenuhnya menjadi hak dan kewajiban Anda sendiri bukan?
Sebenarnya saja, kalau Anda mau percaya (kalau tidak, ya boleh), tidak selamanya perilaku tersinggung itu buruk. Atau selalu merugikan. Karena rasa tersinggung dapat menjadi daya dorong semangat untuk membuktikan bahwa dirinya tidak segoblok yang dituduh orang. Dengan tersinggung secara tepat, kadang kita justru memperoleh hasil dari situasi yang ada. Misalnya orang menjadi tidak terlalu kurang ajar kepada kita.
Akhirnya kita bisa menarik satu garis tenggang rasa, bahwa rasa ketersinggungan bisa mengakibatkan kita menjadi tidak disukai, menjadi disegani, atau membuat orang menjadi enggan sama sekali. Bagian mana yang bakal Anda peroleh dalam kancah pergaulan, itu sepenuhnya tergantung pada sikap Anda sendiri. Bagaimana, di mana, kenapa, bilamana, kepada siapa, untuk apa Anda tersinggung. Bila tepat mengambil waktu mungkin saja keberuntungan yang Anda peroleh.
Tetapi, dunia tak pernah lupa mencatat, bahwa orang-orang bijak bestari adalah orang-orang yang dapat menertawakan ketololan, kesialan dan kekurangan diri sendiri. Di bagian mana kata tersinggung ditempatkan? Mungkin orang-orang tersebut tersinggung saat melihat kemanusiaan direndahkan; keadilan dan hak-hak orang lemah diinjak-injak oleh penguasa. Jadi untuk dapat tersinggung, tak cukup bila sekadar persoalan-persoalan teknis, apalagi yang terkait hanya dengan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan dirinya.
Bagaimana dengan kesabaran?
Orang yang terlalu sabar, harga dirinya gampang diinjak-injak; orang makin berani menumpahkan ejekan dan olok-olok. Namun jangan lupa; bisa pula menjadikan kita tampak semakin berwibawa, dan orang menjadi sangat segan dengan ketenangan yang kita miliki.
Sekali lagi itu tergantung kepada lima W satu H di atas (kayak jurnalistik saja!). Tahu kan artinya? Yah, kalau tidak, putar otak sedikitlah untuk memecahkan artinya.
Secara umum, orang yang sangat gampang tersinggung atau garis singgungnya amat tipis, sesungguhnya memiliki bakat melawak yang amat besar. Seorang humoris kaliber. Benarkah? Benar!
Yang dimaksudkan di atas adalah pelawak dalam kehidupan yang sesungguhnya. Coba saja kalau Anda tengah ngobrol dalam satu kelompok, tiba-tiba karena sesuatu omongan yang biasa-biasa saja, salah seorang dari mereka menampakkan sikap tersinggung dan marah yang ditandai dengan mimik mukanya berwarna merah. Maka bisa dipastikan teman-teman yang lain bakal diam seribu basa. Tapi bisa dijamin dalam hati menertawakan ulah si pemarah sambil terbahak-bahak. Sambil berucap, kasihan.....
Apa jadinya bila pelawak sampai dikasihani penontonnya?
Nah? Anda semua pembaca kolom ini, semisal Anda bukan seorang humoris, tapi pasti punya selera humor cukup waras, kan? Karena itu Anda pasti juga punya pandangan yang kritis dan tajam tentang segala hal yang tidak beres di lingkungan Anda. Punya daya nalar yang mengagumkan. Punya kepekaan yang luar biasa. Pendeknya, ekspresi alami yang bakal muncul dari tipe orang-orang semacam Anda adalah pribadi mandiri dan berpikir merdeka; berani beda. Saat melempar umpan atau serangan dalam percakapan Anda selalu jitu.
Tetapi pernahkah Anda berpikir, bila semua yang serba “hebat” itu milik orang lain dan umpan/serangan yang jitu menimpa diri Anda sendiri? Apa yang akan Anda lakukan?
Tak usah dijawab! Bila toh Anda bersikeras melakukan, itu tandanya Anda orang tak sabaran. Cukup renungkan saja. Daaaaag! Sampai jumpa di kesempatan lain atau nanti entah kapan.
Darminto M. Sudarmo, penulis dan pengamat humor.
Bila Anda pandai-pandai menyiasati, Anda akan beroleh keuntungan. Tetapi bila sebaliknya, maka hasilnya bisa dipastikan bakal tambah berantakan. Ha-ha!!!
Juga disarankan, bacalah kolom ini ketika Anda dalam keadaan sakit hati. Menyimpan dendam kesumat. Jiwa lungkrah, hati loyo, atau bila mungkin dalam keadaan yang paling fit, atau sangat sehat, atau sangat wal”afiat, atau sangat gembira, atau sangat bahagia, atau sangat tenteram, atau keadaan positif lainnya, maka cepat-cepatlah Anda bikin perkara dengan sekitar Anda, sebelum membaca ini kolom. Supaya apa? Yah, supaya adrenalin Anda naik, supaya daya hidup Anda menggeliat.
Mari kita ngomong soal garis singgung.
Pernahkah Anda membayangkan, berapa juta rakyat negeri ini yang sedang tersinggung pada detik Anda membaca artikel ini? Berapa juta pemimpin negeri ini yang sedang tersinggung pada detik ini juga?
Baiklah itu tidak untuk kita jawab terburu-buru. Persoalan yang ingin dimajukan di sini adalah mengapa mereka bisa tersinggung?
Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh para ahli jiwa raga, dapatlah dideteksi ciri-ciri orang yang gampang tersinggung. Atau paling tidak dalam seharinya pernah menderita penyakit yang bernama tersinggung itu.
Mereka antara lain:
- Orang yang banyak memiliki kesalahan, baik sengaja maupun yang direncanakan.
- Orang yang dalam hidupnya gemar berutang, baik yang gali lobang tutup
lobang maupun yang gali lobang kubur awak sendiri.
- Orang yang gemar melakukan lima M (mencuri, main judi, main perempuan/main laki- laki, membunuh, minum air keras, eh, minuman keras).
- Orang yang gemar sewenang-wenang terhadap sesama.
- Orang yang mementingkan diri sendiri.
- Orang yang terlalu ambisius, suka menjilat atasan-menginjak bawahan dan menginjak- injak HAM.
Indikasi yang bisa dijadikan pedoman, semakin mudah seseorang dihinggapi rasa gampang tersinggung, semakin jelas emosinya yang labil. Kekanakan atau malah tak punya jati diri sama sekali. Orang-orang semacam ini, tidak pantas dijauhi, tetapi harus diakrabi (agar kita ketularan gampang tersinggung? O, bukan!). Agar kita bisa menyinggung mereka lebih leluasa? Juga bukan. Agar kita bisa saling singgung-menyinggung? Bukan juga! Lalu apa dong maksudnya? Ya itu tugas Anda untuk memutar otak biar kita terlihat gagah karena tampak lagi berpikir.
Beberapa akibat setelah orang kemasukan penyakit tersinggung bermacam-macam. Sebagian ada yang buru-buru menghindar, lalu menyakiti diri sendiri nyaris kayak seorang maniak. Sebagian yang lain mencak-mencak dan melakukan agresivitas berlebihan. Misalnya membuang uangnya yang berjumlah ratusan ribu ke jalan raya (bohong). Memecahkan barang-barang pecah belah, seperti piring, gelas, kacamata, pinggan, hiasan-hiasan keramik, kaca jendela, lemari, pintu dan lain-lainnya. Setelah semua barang-barang itu habis, lalu dia pecahkan kepalanya sendiri (juga bohong!).
Dikhawatirkan sekali bila yang tersinggung ini orang-orang yang sedang kuat atau kuasa pada zamannya. Dia bisa melakukan hal-hal yang sangat personal dengan mengaku-aku sebagai tindakan dinas atau resmi atau atas nama negara. Contohnya Kaisar Nero yang membakar kota Roma, atau Hitler yang hipernasionalis lalu berhobi membunuh orang-orang Yahudi. Bahkan di sekitar Anda, bila ada salah seorang warga desa tak mau melakukan kerja bakti karena ada alasan atau keperluan yang sangat prinsip, cepat saja, Pak RT atau Pak RK atau Pak Lurah menuduh yang macem-macem. Yang inilah, yang itulah. Lebih-lebih bila Anda selalu absen setiap ada giliran kerja bakti atau siskamling.
Dan yang paling ajaib, ada seorang bawahan di suatu instansi yang kritis dan cerdas. Dalam setiap rapat pertemuan dia selalu mempertanyakan tanggungjawab secara administratif mengenai penggunaan dana dan lain-lain yang dalam laporan SPJ (Surat Pertanggung Jawaban) selalu tercantum lengkap dan “otentik”, padahal dalam praktiknya tidak ada sama sekali. Sang pimpinan akhirnya tersinggung, meskipun tahu bawahannya benar. Tapi karena sudah terlanjur basah, alangkah berat menarik lidah, apalagi menjilat ludah, lalu dia mengeluarkan power dan kuasanya dengan marah-marah.
Pada kesempatan yang “manis” karena dia kuasa, dikirimlah (baca: dimutasi dengan penuh rasa dongkol) sang bawahan yang membahayakan kedudukannya ini ke sektor dan tempat yang maha sulit dan serba tak berkutik.
Begitulah bila orang tersinggung.
Karena perkara garis singgung pula, ada buruh mogok, ada toko mogok buka, ada koran atau majalah kena breidel, eh mogok terbit, ada karyawan kena PHK, eh mogok dinas. Ada rakyat mogok makan (di Ethiopia), ada gunung mogok bertapa (di Meksiko dan Colombia). Ada penumpang pesawat dibajak, lalu membiarkan dirinya ditembusi peluru oleh pasukan antiteroris. Ada wartawan mogok cari berita, lalu meminta para pejabat mewawancarainya. Pendeknya, segala macam perkara bisa terjadi bila makhluk yang bernama manusia sudah terserang penyakit yang bernama tersinggung.
Bila Anda sendiri yang kena, apa yang akan Anda lakukan?
Sesuai dengan janji pada awal tulisan ini, soal jalan keluar maupun petunjuk tak bakal diberikan, maka soal Anda akan bersikap apa ketika Anda tengah tersinggung, itu sepenuhnya menjadi hak dan kewajiban Anda sendiri bukan?
Sebenarnya saja, kalau Anda mau percaya (kalau tidak, ya boleh), tidak selamanya perilaku tersinggung itu buruk. Atau selalu merugikan. Karena rasa tersinggung dapat menjadi daya dorong semangat untuk membuktikan bahwa dirinya tidak segoblok yang dituduh orang. Dengan tersinggung secara tepat, kadang kita justru memperoleh hasil dari situasi yang ada. Misalnya orang menjadi tidak terlalu kurang ajar kepada kita.
Akhirnya kita bisa menarik satu garis tenggang rasa, bahwa rasa ketersinggungan bisa mengakibatkan kita menjadi tidak disukai, menjadi disegani, atau membuat orang menjadi enggan sama sekali. Bagian mana yang bakal Anda peroleh dalam kancah pergaulan, itu sepenuhnya tergantung pada sikap Anda sendiri. Bagaimana, di mana, kenapa, bilamana, kepada siapa, untuk apa Anda tersinggung. Bila tepat mengambil waktu mungkin saja keberuntungan yang Anda peroleh.
Tetapi, dunia tak pernah lupa mencatat, bahwa orang-orang bijak bestari adalah orang-orang yang dapat menertawakan ketololan, kesialan dan kekurangan diri sendiri. Di bagian mana kata tersinggung ditempatkan? Mungkin orang-orang tersebut tersinggung saat melihat kemanusiaan direndahkan; keadilan dan hak-hak orang lemah diinjak-injak oleh penguasa. Jadi untuk dapat tersinggung, tak cukup bila sekadar persoalan-persoalan teknis, apalagi yang terkait hanya dengan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan dirinya.
Bagaimana dengan kesabaran?
Orang yang terlalu sabar, harga dirinya gampang diinjak-injak; orang makin berani menumpahkan ejekan dan olok-olok. Namun jangan lupa; bisa pula menjadikan kita tampak semakin berwibawa, dan orang menjadi sangat segan dengan ketenangan yang kita miliki.
Sekali lagi itu tergantung kepada lima W satu H di atas (kayak jurnalistik saja!). Tahu kan artinya? Yah, kalau tidak, putar otak sedikitlah untuk memecahkan artinya.
Secara umum, orang yang sangat gampang tersinggung atau garis singgungnya amat tipis, sesungguhnya memiliki bakat melawak yang amat besar. Seorang humoris kaliber. Benarkah? Benar!
Yang dimaksudkan di atas adalah pelawak dalam kehidupan yang sesungguhnya. Coba saja kalau Anda tengah ngobrol dalam satu kelompok, tiba-tiba karena sesuatu omongan yang biasa-biasa saja, salah seorang dari mereka menampakkan sikap tersinggung dan marah yang ditandai dengan mimik mukanya berwarna merah. Maka bisa dipastikan teman-teman yang lain bakal diam seribu basa. Tapi bisa dijamin dalam hati menertawakan ulah si pemarah sambil terbahak-bahak. Sambil berucap, kasihan.....
Apa jadinya bila pelawak sampai dikasihani penontonnya?
Nah? Anda semua pembaca kolom ini, semisal Anda bukan seorang humoris, tapi pasti punya selera humor cukup waras, kan? Karena itu Anda pasti juga punya pandangan yang kritis dan tajam tentang segala hal yang tidak beres di lingkungan Anda. Punya daya nalar yang mengagumkan. Punya kepekaan yang luar biasa. Pendeknya, ekspresi alami yang bakal muncul dari tipe orang-orang semacam Anda adalah pribadi mandiri dan berpikir merdeka; berani beda. Saat melempar umpan atau serangan dalam percakapan Anda selalu jitu.
Tetapi pernahkah Anda berpikir, bila semua yang serba “hebat” itu milik orang lain dan umpan/serangan yang jitu menimpa diri Anda sendiri? Apa yang akan Anda lakukan?
Tak usah dijawab! Bila toh Anda bersikeras melakukan, itu tandanya Anda orang tak sabaran. Cukup renungkan saja. Daaaaag! Sampai jumpa di kesempatan lain atau nanti entah kapan.
Darminto M. Sudarmo, penulis dan pengamat humor.
Wednesday, September 3, 2008
Museum Kartun Indonesia Bali Fair
2:40 AM
No comments

Sebuah perhelatan yang cukup meriah akan berlangsung di lokasi Museum Kartun Indonesia Bali dengan tema "Parade Seni Kartun Nasional 2008". Para kartunis yang ambil bagian adalah dari berbagai lini. Dari lini atas, yang tergolong senior adalah GM Sudarta, Pramono R. Pramoedjo, Priyanto Sunarto dan seangkatannya. Acara tersebut dilangsungkan mulai 19 hingga 31 Oktober 2008, non-stop!Kemudian disusul kartunis lini khusus; yakni yang tergabung dalam kelompok: KOKKANG, yang pada perayaan kali ini memang diundang oleh Museum secara khusus agar menampilkan karya kartun yang tidak tidak terbatas pada gambar untuk dimuat di media massa atau keperluan grafis tertentu; tetapi yang lebih beda dan variatif. Maka, ada kemungkinan kelompok ini akan menampilkan karya-karya audio-visual, bahkan animasi kartun hingga karya-karya desain untuk keperluan iklan, percetakan dan merchandise lainnya.Acara yang tak kalah spektakular adalah "Anugerah Maestro" untuk kartunis Augustin Sibarani. Dilaksanakan dalam jadwal yang sudah terprogram. Kegiatan lain yang pasti menarik perhatian bagi masyarakat umum adalah selain kunjungan ke Museum Kartun Indonesia Bali, juga dilakukan lelang kartun para kartunis senior; sehingga masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mengoleksi karya-karya mereka.Bazar kartun, demo melukis karikatur wajah, workshop kartun, hingga belanja buku-buku kartun/humor di bookstore museum, tersedia. Pengunjung benar-benar diajak ke dalam suasana wisata dan karnaval kartun yang baru terjadi di Indonesia ini. Mungkin juga di Asia Tenggara.Kartunis nasional lain yang berpartisipasi dalam bursa kartun antara lain: Jitet Koestana, Tommy Thomdean, Didie SW, M. Nasir, Hanung Kuncoro, Jango, Koenan Hoesie, Pamudji MS dan banyak lagi lainnya.
Obrolan Ringan Soal Karikatur
2:18 AM
No comments

Oleh Darminto M Sudarmo
KARIKATUR adalah bagian dari seni grafis. Di Indonesia, secara salah kaprah sudah diidentikkan dengan tajuk rencana dalam bentuk gambar lucu. Menghadapi karya karikatur, orang selalu mempersiapkan diri agar memperoleh opini dan kelucuan. Karena itu karikatur yang tak ada opininya, bisa “dituduh” sebagai kartun murni (gag cartoon). Begitu pula bila tidak ada kelucuannya, bisa dikatakan sebagai pamflet atau poster.
Dalam karya karikatur pula selalu ada totalitas dari kompleksitas permasalahan. Saat beropini, misalnya, cenderung memilih jurus logika balik atau antitesa; dimaksudkan sebagai peringatan pertama akan adanya suatu ketidakberesan yang mungkin terjadi, atau sekadar menyampaikan masalah yang sedang hangat ke permukaan.
Proses pengolahan karya karikatur, esensinya memadukan unsur wartawan, seniman dan intelektual. Di mana, informasi diolah oleh proses opini intelegensia, lalu dikemas dalam sajian kreativitas seorang seniman. Yang harus memperhitungkan unsur-unsur estetika.
Menurut GM Sudarta, menikmati karikatur adalah menyimak wajah kita sendiri. Kedewasaan kita bisa diukur sejauh mana kita bisa menertawakan diri kita sendiri. Sementara orang masih mengatakan bahwa dunia karikatur kita belum matang. Ini ada kaitannya dengan kehidupan kritik dan pers kita. Tapi apakah benar demikian?
Mati Ketawa Cara Indonesia
Suatu kali kita lihat karikatur karya T. Sutanto yang terbit di Mingguan Mahasiswa, Bandung, pada tahun enampuluhan. Digambarkan di sana seorang anggota ABRI berjalan beriringan dengan mahasiswa dalam langkah serempak. Hanya saja bayonet sang ABRI menghadap ke belakang, ke arah sang mahasiswa. Karikatur yang tajam, sekaligus mengundang senyum yang getir. Kemudian kartunis-kartunis besar di zaman permulaan Orde Baru, seperti Sanento Yuliman, Hariadi S. Keulman, menghadirkan karya-karyanya yang tajam selain di Mingguan Mahaiswa juga di Harian Kami.
Periode di atas mungkin bisa dibilang periode zaman emas kritik dalam karikatur, kalau ukurannya adalah ketajaman dan keberanian. Tapi yang kita lihat kemudian adalah senyum getir bahwa dua media massa tersebut ditambah beberapa lainnya, harus tewas (korban mati ketawa cara Rus, eh, Indonesia). Maklum, sebelum era Reformasi bagi pers Indonesia sangat fobi dan seringkali dihantui istilah yang seperti momok atau hantu; yakni: Breidel atau cabut SIUPP!
Akhirnya kita berkesimpulan, kata GM Sudarta, setidaknya bagi diri sendiri, bahwa mawas diri dan tenggang rasa dalam penyampaian kriktik adalah perlu. Tidak usah presiden, menteri, jenderal, atau para pejabat lain, kita sendiri pun bila dikritik juga punya kecenderungan untuk marah. Apalagi kalau kritik itu destruktif, atau tajam menusuk.
Untuk menanggulangi hal yang tak diinginkan itu (bagaimana pun kita hidup di alam budaya timur, entah kalau barat), maka para kartunis menggunakan strategi tepo sliro, agar bisa membuat sebuah karikatur yang baik. Dalam arti, mempunyai kadar humor, kadar estetika gambar-menggambar, dan kadar pesan kritik. Serta kena sasaran, artinya misi yang disampaikan selamat ke tujuan, tidak ada beban saling curiga atas iktikad kritik tersebut. Sehingga hasil akhir dari strategi yang dimaksud adalah mampu menghadirkan senyum untuk semua. Baik yang mengkritik maupun yang dikritik, demikian pula masyarakat penikmat, terwakili aspirasinya.
Syarat itu cukup sulit dan absurd, tapi begitulah Indonesia di masa Orde Baru. Bila pers harus menjadi pers Pancasila, maka karikatur juga harus menjadi karikatur Pancasila.
Kartun Indonesia di tengah Peta Kartun Dunia
Barangkali terlampau riskan untuk menyebut kapan seni kartun masuk ke Indonesia. Sementara data yang ada hanya menyebut perkiraan tahun masuknya kartun ke Indonesia berkisar antara 20-an hingga 30-an. Ditandai dengan awal mula pergerakkan nasional lewat pengelompokan politik serta media massa.
Masa sebelum itu, Indonesia memang memiliki tradisi komik (cerita bergambar) atau sastra olok-olok (satire). Tetapi jenis seni kartun sebagaimana yang kita kenal saat ini belum menunjukkan tanda-tanda hadir sebelum tahun yang disebutkan di atas.
Pada tahun 30-an itulah koran mingguan Fikiran Rakyat mulai menampilkan gambar-gambar sindiran yang dalam masa sekarang corak gambar seperti itu lazim disebut sebagai karikatur (political cartoon).
Tradisi political cartoon di Indonesia barangkali lebih dominan hadir dibanding dengan jenis kartun yang lain. GM Sudarta menyebut, Bapak Karikaturis Indonesia adalah Bung Karno. Ini sangat beralasan. Karena pada masa itu, sejalan dengan semangat kebangsaan, gambar corak karikatur memang efektif untuk membangkitkan semangat rakyat. Kebangkitan nasional!
Lalu pada masa sesudah itu dikenal karikaturis-karikaturis Indonesia yang namanya tetap abadi di kalangan media massa. Seperti misalnya: Sibarani, Harmoko, Sam Suharto dan lain-lain, muncul di tahun limapuluhan. Kemudian pada masa bangkitnya Orde Baru dikenal nama-nama seperti: T. Sutanto, Sanento Yuliman, Hariadi S. Keulman, dan lain-lain.
Periode sesudah itu, kita kenal nama-nama karikaturis seperti misalnya: GM Sudarta, Pramono, Dwi Koendoro, Thomas Lionar, Priyanto S, Tony Tantra, Alex Dinuth, dan lain-lain
Tuesday, August 19, 2008
Kartun-kartun yang Menjadi Koleksi Museum Kartun Indonesia Bali
9:31 AM
No comments

Dari Ideologi Estetika ke Arus Apresiasi
Oleh Darminto M Sudarmo
Seni kartun di Indonesia, sejujurnya, tetap belum dapat melepaskan dirinya dari seni grafis. Kalaupun dalam proses perjalanannya sesekali ia punya upaya geliat diri lewat eksperimentasi dan eksplorasi, faktanya upaya itu hanya merupakan riak-riak kecil yang tak menerbitkan gaung signifikan bagi para kartunis Indonesia maupun apresian pada umumnya.
Ada sederetan wacana tentang kartun tiga dimensi, kartun instalasi, kartun kontemporer, dan lain-lain, namun faktanya ia hanya muncul sesaat, sesudah itu lalu menguap begitu saja. Apalagi wacana-wacana yang muncul itu pada tingkat obrolan warung kopi. Belum pernah ada seminar serius bertema sebagaimana disebutkan di atas dan mengundang pembicara-pembicara ahli yang memiliki kompentensi memadai tentang hal tersebut.
Pada akhirnya, arus yang kemudian dianggap dominan mendapatkan tempat dan apresiasi adalah kartun opini (baca: editorial cartoon, political cartoon) dan hanya sedikit apresiasi untuk kartun-kartun lelucon (sosial-budaya) yang notabene secara teknis digambar secara “kodian” dan miskin detail. Dari aspek gagasan yang ditawarkan pun tidak melewati perenungan mendalam, sehingga sebagian besar kartunis lelucon (gag cartoonist) “dituduh” hanya mengolah tema atau topik secara permukaan dengan muatan pesan berkutat dari itu ke itu saja.
Sejujurnya, secara implisit kegenitan seperti itu terasa dari semangat penyajian materi dari Museum Kartun Indonesia Bali yang soft opening-nya dilakukan pertengahan Maret 2008 lalu. Spirit itu seakan ingin mendeklarasikan “ideologi estetika” bahwa kartun yang tidak digambar dengan “indah” dan memuat pesan politis yang “heboh”, maka ia bukan kartun yang layak diperhitungkan dalam peta sejarah kartun di Indonesia. Dengan demikian jika suatu karya kartun tidak mendapatkan apresiasi para pemegang otoritas Museum Kartun Indonesia Bali, maka sudah dengan sendirinya para kartunisnya juga kurang mendapatkan perhatian, apalagi dalam percaturan dan pemetaan apa-siapa kartunis Indonesia.
Melalui kesempatan menulis sebagian dari isi katalog museum kartun tersebut, saya sebagai pihak yang melihat dari sisi “luar”, mencoba menyajikan data dan fakta atau informasi sekilas tentang kartun dan kartunis Indonesia, sejauh yang dapat saya akses, sebagaimana tertuang di bawah ini.
Pertama, dalam periode awal ini telah berhasil dikumpulkan kartun-kartun karya kartunis dari seluruh Indonesia yang memiliki nilai dan momentum tersendiri. Nilai, artinya kartun tersebut punya bobot dan makna pada waktu karya-karya tersebut dimuat di media cetak Indonesia. Momentum, artinya kartun tersebut pernah memiliki riwayat atau track record baik itu terkait karena menang di ajang kompetisi nasional maupun internasional; atau dapat pula, karena kartun itu pernah terkait dengan masalah-masalah kontroversial: misalnya pernah ditolak untuk dimuat oleh redaksi sehingga si kartunisnya jadi uring-uringan atau patah arang. Ada pula riwayat kartun yang disomasi (dituntut) oleh pihak lain, sehingga jantung si kartunisnya jadi berdebar seribu degub: mungkin si kartunis beruntung kalau si penuntut nau lewat jalur hukum, kalau main hakim sendiri, gawat, kan? Pendek kata, kartun itu menjadi istimewa karena persoalan heritage-nya tadi.
Kedua, dari ratusan, bahkan ribuan koleksi museum yang telah didata, terjaring sejumlah karya master piece dari sejumlah maestro kartunis Indonesia: sebagian di antaranya bahkan, masih hidup dan sehat wal afiat, masih giat berkarya atau mengartun. Mereka antara lain: GM Sudarta (Harian Kompas); Pramono R. Pramoedjo (Harian Sinar Harapan), Dwi Koendoro (Panji Koming, Kompas); Pri S (Majalah Tempo), T. Sutanto (Harian Pikiran Rakyat, Harian Jakarta Post), dan Augustin Sibarani dengan inisial Srani (d/h Kisah, Aneka, Bintang Timur, Pantau dan kini Majalah Tapian). Para kartunis seangkatan Sibarani yang juga menonjol namanya saat itu (antara tahun 1950-1957) adalah: Ramelan (Suluh Indonesia) dan S. Soeharto (Indonesia Raya). Dan yang paling mencengangkan kita semua adalah seorang kartunis yang bernama Thomas Lionar. Kartunis asal Sungailiat, Bangka, ini bergabung dengan Harian Suara Pembaruan dalam rentang waktu yang sangat singkat: pertengahan 1987 hingga 1990 (meninggal dunia). Ya, meninggal dalam usia muda. Meskipun demikian, meskipun Thomas berkarya dalam waktu sangat singkat namun popularitas dan tawaran gagasannya sebagai karikaturis sangat membekas dalam benak masyarakat. Ada yang memberinya julukan “Si Kartunis Meteor”. Sekali muncul langsung bersinar kemudian lenyap menjadi debu. Beruntung kartunis Pramono yang notabene menjadi “kakak asuh” Thomas Lionar berkesempatan menyelamatkan sebagian dari karya-karya terbaik Thomas Lionar, sehingga pengunjung museum juga dapat ikut menikmatinya.
Ketiga, pengelola museum sedang terus berupaya meningkatkan koleksinya dengan memburu kartun-kartun yang pernah terbit tahun-tahun antara 1940 – 1950-an. Disebutkan pada tahun-tahun itu ada seorang kartunis bernama samaran Soemini, yang di kemudian hari orang baru sadar, ternyata Soemini itu adalah Ir. Soekarno alias Bung Karno. Banyak pula orang dibuat cingak oleh sejarah. Sebutlah nama Abdulsalam. Pada masanya ia hanya dikenal sebagai pelukis yang karyanya mendapat tempat tersendiri di hati para penggemarnya, tetapi orang jarang yang menyadari kalau ternyata saat itu Abdulsalam juga berkiprah sebagai seorang kartunis yang andal dan diperhitungkan. Fakta ini nyaris seperti kabut yang menyelimuti perjalanan karier seorang manusia bernama Harmoko. Pemahaman masyarakat saat ini tentang Harmoko adalah seorang figur yang pernah menjadi Ketua MPR RI, Ketua Umum Partai Golkar, dan Menteri Penerangan RI pada masa Orde Baru. Mungkin tak banyak orang yang tahu bahwa Harmoko itu pernah menjadi kartunis di Harian Merdeka dengan inisialnya yang sangat khas: Mok. Ada seorang kartunis hebat asal Bali yang karyanya tergolong fenomenal dan memiliki teknik yang jauh mendahului waktu, namanya Tony Tantra. Sebagai kartunis, lepas dari berbagai persoalan “teknis” yang terkait atau dikait-kaitkan dengan dirinya, Tony sebenarnya sudah berada dalam tataran lapis atas. Entah mengapa ia memilih jalan untuk tidak masuk dalam lingkaran “pergaulan” para kartunis pada umumnya; bahkan sikap itu dia berlakukan kepada sesama kartunis Bali sekalipun. Sayang sekali, Tony Tantra dengan potensi instirinsikk yang sangat besar dan bergelora, kini sulit ditemukan jejaknya. Apalagi sosok dirinya. Bagaimanapun masyarakat tak dapat melupakan ketika tahun 1980-an LHI (Lembaga Humor Indonesia) punya hajat dan mengadakan pameran humor di TIM (Taman Ismail Marzuki), Jakarta, Tony Tantra menampilkan karya karikatur (benar-benar deformasi dan distorsi wajah) Menteri Perminyakan Soebroto digambarkan sebagai penjual minyak yang sedang memikul dagangannya, Menteri Pendidikan Daud Joesoef bergigi buku dan lain-lain tokoh, dengan teknik cat semprot yang sangat halus dan sempurna. Bahkan pilihan sudut bidik, komposisi dan gagasan karikaturnya sendiri sungguh luar biasa. Nyaris, semua media cetak di Jakarta saat itu memuat karikatur Tony di halaman depan dan berwarna. Debut itu sungguh sangat memorable dan sulit untuk dilupakan. Ibarat kata, pameran humor saat itu hanya milik Tony, karena ia benar-benar menjadi bintang dan fokus perbincangan para kritikus maupun masyarakat ramai. Tetapi mengapa harus jalan sunyi dan sendiri yang kini dipilih oleh kartunis misterius ini?
Keempat, tahun 1970-an ke atas dapat dikatakan sebagai tahun ladang persemaian yang subur bagi tumbuhnya “tradisi” kartun lelucon. Kalau kartun-kartun yang disebutkan di atas tadi lebih mengerucut pada pengertian kartun opini (editorial cartoon atau political cartoon), maka kartun yang tumbuh mekar pada tahun 1970-an adalah kartun lelucon bertema sosial, situasi sehari-hari atau bahkan yang penting kartun lucu dan menghibur. Pada tahun-tahun 70-an ke atas, Indonesia, khususnya Jakarta, diramaikan terbitnya majalah-majalah Selecta Group; seperti: Selecta, D&R (Detektip & Romantika), Stop (Humor) dan lain-lain. Di halaman majalah-majalah tersebut dimuat secara bertebaran maupun sebagai stopper, kartun-kartun karya Johnny Hidayat, Subro, Oet, FX S Har, Zen, Harry Pede, dan lain-lainnya. Dua nama yang dianggap paling ngetop untuk kartun lelucon (gag cartoon) pada masa itu adalah Johnny Hidayat dan Subro. Nyaris setiap terbit tiada halaman tanpa kartun mereka. Media yang termasuk longgar memuat kartun sejenis adalah Majalah Variasi, Intisari, Varia, Yunior dan Warnasari. Karena kartun-kartun lelucon itu bersifat kontributif, maka banyak kartunis baru atau yang masih tahap belajar berpartisipasi mengirimkan kartun ke media-media tersebut dengan harapan dapat dimuat dan mendapatkan honor yang cukup memadai. Satu hal yang sangat penting untuk dicatat kaitannya dengan fenomena tersebut adalah tumbuhnya keberanian di kalangan pemula untuk mencoba menjadi kartunis dan tersedia wadah untuk menguji kebisaan mereka.
Kelima, bibit-bibit kartunis baru pun akhirnya bermunculan. Tahun 1980-an, kartunis yang dulunya belajar secara otodidak lewat kartun-kartun lelucon yang dimuat di berbagai media cetak, kini telah tumbuh menjadi sosok yang beda dan tak ragu menyebut diri sebagai kartunis. Tolok ukurnya apa? Tentu saja karena kartun-kartun karya mereka juga telah terbukti ikut meramaikan dunia penerbitan di Jakarta maupun kota-kota lain (daerah) yang menyediakan lahan untuk diisi kartun-kartun lelucon. Maka pada periode ini pula muncul semangat untuk tergabung dalam paguyuban atau komunitas. Itu terjadi lantaran secara faktual, jumlah mereka lumayan banyak, dan semangat mereka juga tinggi. Diawali oleh sekelompok kartunis Yogyakarta: Bagong Soebardjo (Inan), Subro, Gunawan R, Gunawan W, Gessi Goran, Anwar Rosyid, T. Nurjito, Wachid Elba Beach, Ashady dan lain-lain bertekad mengikat dalam sebuah komunitas yang dinamakan Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta). Deklarasi pendirian Pakyo ini ditandai dengan mengadakan pameran kartun bersama di Galeri Seni Sono, Yogyakarta. Seperti gayung bersambut, pemberitaan mengenai Pakyo ini mengusik dua kartunis Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah; yaitu Odios (Darminto M Sudarmo) dan Itos (Boedy Santosa). Tanpa banyak buang waktu, keduanya lalu bersepakat mendirikan Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu). Tanpa banyak buang waktu pula, keduanya lalu mengadakan pameran kartun bersama di Pendopo Kawedanan Kaliwungu (1982). Situasi menjadi semakin menarik ketika orang menggunjingkan lahirnya Kokkang karena kemunculan Pakyo; sepertinya peristiwa itu terjadi karena pengaruh teori efek domino saja. Tetapi, ada pula yang menyanggahnya. Pakyo lahir karena memang harus lahir. Kokkang lahir karena memang sudah waktunya lahir. Rasanya tak perlu menghubung-hubungkan gejala itu sebagai akibat dari teori efek domino segala. Intinya, kalau itu bisa terjadi karena kebetulan semata. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Pameran kartun Odios dan Itos yang saat itu dihadiri Jaya Suprana dan para kartunis Semarang, benar-benar membuktikan bahwa teori efek domino itu tak dapat dikecilkan artinya; karena kurang dari seminggu setelah mereka mengunjungi pameran di Kaliwungu, kartunis-kartunis Semarang lalu mendeklarasikan berdirinya Secac (Semarang Cartoon Club). Sekelompok kartunis Semarang lainnya yang punya prinsip beda mendirikan Wak Semar (Wadah Kartunis Semarang). Begitulah jejak yang tertinggal. Jejak yang masih dapat dilacak. Bila sesudah itu masyarakat menyaksikan suburnya pendirian paguyuban atau kelompok kartunis lain yang tak kunjung putus tak kunjung rampung, maka tak sulit untuk menarik benang merah korelasi, bahwa itu semua terjadi karena pengaruh virus latah atau trend atau efek domino tadi. Jangan heran kalau Anda kemudian menjumpai nama-nama komunitas kartunis seperti ini: Terkatung (Terminal Kartunis Ungaran), Pakarso (Paguyuban Kartunis Solo), Pecahban (Pecandu Kartunis Bandung), Pokal (Persatuan Kartunis Tegal), Perkara (Persatuan Kartunis Rawamangun), Ikan Asin (Ikatan Kartunis Banjarmasin) dan masih banyak lagi lainnya.
Keenam, paguyuban-paguyuban atau kelompok kartunis yang marak dan bertebaran di berbagai titik lokasi di Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi itu sedikitnya membuahkan hasil berupa kompetisi sehat dan adu kuat dalam survival kelompok atau individu melawan gerusan waktu. Hasilnya lumayan. Alam menyeleksi lewat kebajikannya. Akhirnya muncul nama-nama yang pada saat naskah ini ditulis, mereka masuk kategori second grade. Siap mengintip singgasana maestro yang sebetulnya juga milik mereka sendiri. Siapapun boleh setuju atau tidak setuju, tetapi keputusan menyebut sebagian nama mereka semata-mata karena pertimbangan: prestasi, penilaian kritikus dan pengakuan publik (dalam atau luar negeri). Nama-nama itu misalnya: Jitet Koestana, M. Najib, Jango Pramartha, Thomdean, Benny dan Mice, Tyok, Gessi Goran, Non-O S. Purwono, Gunawan Pranyoto (Goen), Mukhid Rahmat, M. Syaifudin, M. Nasir, Hanung Kuncoro, Koesnan Hoesie, Muslih, Wiednyana, Gun Gun, Gus Martin, Den Dede, Deny Adil, dan banyak lagi yang tak dapat ditulis di sini karena keterbatasan halaman. Bahkan kartunis Pri S (Priyanto Sunarto) yang telah meraih doktor dengan disertasi “Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957”, di depan para peminat kartun mengatakan, bahwa Jitet Koestana itu sebenarnya sudah layak dimasukkan ke dalam kategori salah seorang maestro kartunis Indonesia. Pendapat itu sah. Namun proses pengakuan publik, juga memerlukan waktu. Apakah sistem nilai di negeri kita sudah dapat melihat masalah dengan kaca mata adil dan bijak? Misalnya wacana tentang Jitet apakah perlu harus menunggu dia berumur lanjut lebih dulu, kenyataannya, kendati secara usia dia masih tergolong muda namun kualitas karyanya tidak terlalu jauh dari para maestro yang ada saat ini.
Ketujuh, mengingat keterbatasan tempat pajang, akan sangat bijak bila pengelola museum dapat mengakomodasi kartun-kartun bagus yang belum berkesempatan dipajang untuk diolah dalam format digital; baik itu yang berkaitan dengan karya berwujud visual, audio, maupun audio visual. Pelayanan ini berkemungkinan menjembatani kehausan pengunjung agar dapat mengakses informasi seputar kartun (dwimatra maupun trimatra) dan segala bentuk informasi yang berkaitan dengan kartun Indonesia dalam pengertian yang seluas-luasnya. Tengara bahwa Museum Kartun Indonesia Bali memang benar sebagai museum kartun pertama di Asia Tenggara, ia bukan hanya sebuah kebanggaan, tetapi juga sebuah pekerjaan rumah yang cukup panjang dan menantang.***
Darminto M Sudarmo adalah penulis dan pengamat humor.
Tulisan berikut merupakan sebagian dari bahan katalog yang diterbitkan oleh Museum Kartun Indonesia Bali dan telah dilakukan penyuntingan/penulisan ulang oleh penulisnya sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)



















