Monday, May 25, 2009
Apakah Pakarti Masih Dibutuhkan?
Oleh Darminto M Sudarmo *)
Pertanyaan sederhana yang muncul adalah, apa sebenarnya Pakarti itu? Pakarti adalah Persatuan Kartunis Indonesia (Indonesia Cartoonist Association). Dapukan (set up) awalnya dimaksudkan sebagai organisasi profesi para kartunis Indonesia. Kalau para dokter punya organisasi profesi bernama IDI (Ikatan Dokter Indonesia), insan perfilman punya Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia) dan para pelawak punya Paski (Persatuan Seniman Komedi Indonesia), maka Pakarti adalah tempat bernaung dan berlindungnya para kartunis Indonesia dalam menjalankan profesinya.
Bernaung dan berlindung artinya, kalau ada kartunis tidak bener (melanggar kode etik dalam menjalankan profesinya sehingga merugikan orang lain dan membawa masalah dalam organisasi), maka Pakarti selaku organisasi wajib “membina” kartunis bersangkutan; kalau ada kartunis yang kena perkara ketika menjalankan profesinya; misal kena somasi atau tuntutan pihak lain yang salah paham atau tersinggung karenanya, maka Pakarti wajib memberikan advokasi, pembelaan hukum lewat pengacara atau pembela yang direkomendasikan.
Kalau Pakarti hanya berpikir bahwa yang disebut aktivitas itu adalah Lomba dan Pameran Kartun, itu tidak salah. Tetapi sebagai organisasi berkapasitas nasional, dua item kegiatan di atas itu terlalu remeh dan cukup dilakukan oleh Koordinator Bidang, yang dibawahi Pakarti. Sebagai organisasi profesi cakupannya sangat luas; menyangkut filosofi, ideologi, visi dan misi organisasi, kode etik, hingga kontribusi riilnya dalam masyarakat.
Pakarti secara nyata dideklarasikan pada 1989 di Ancol, Jakarta. Terpilih sebagai Ketua Umum Pramono R. Pramoedjo untuk masa kepengurusan 1989-1994. Pada 1994, diadakan Munas (musyawarah nasional) di Yogyakarta untuk memilih Ketua Umum Pakarti periode 1994-1999; Pramono R. Pramoedjo terpilih lagi.
Tetapi entah karena situasi makro atau mikro Indonesia yang lagi kurang nyaman, tahun 1999 tak ada munas atau penegasan pertemuan mengenai status kepengurusan Pakarti periode 1999-2004. Sehingga secara de facto maupun de jure, pada periode “suwung” itu Pramono R. Pramoedjo yang terpaksa menjalankan aktivitas organisasi; itupun kalau ada aktivitas yang signifikan. Saya juga heran, selain Pramono sebenarnya ada Wakil Ketua Umum, ada Sekretaris Jenderal, ada Pengurus-pengurus Daerah, ada Ketua Bidang yang jumlahnya nyaris belasan; tetapi anehnya kok tidak ada satu pun “Pejabat” Pakarti yang mengingatkan pentingnya Munas pada tahun 1999 itu atau ngobrol ringan yang intinya adalah membahas kelangsungan setelah masa jabatan Pramono yang kedua habis (batas masa jabatan dalam AD-ART setiap individu adalah dua kali). Jadi kesimpulan saya; nyaris sebagian besar kartunis kita itu “kurang gaul” dalam organisasi; tak paham apa artinya AD-ART, tak mengerti aturan main organisasi khususnya mengenai kewajiban dan hak; karena fakta membuktikan, periode 1999-2004 yang masuk kategori “suwung” legitimasi dan legalitas. Tetapi, tetapi lagi nih, kalau Pakarti hanya mau bersemangat organisasi cemen, kecil-kecilan tingkat regional atau lokal dan segmented, ya tidak perlu saya capek-capek mikir dan nulis ini; tetapi karena sejak pendiriannya memang diset-up dan disepakati untuk menjadi organisasi kartunis Indonesia, saya hanya dapat berdoa dan berharap, semoga di masa mendatang dengan adanya personel-personel muda, Pakarti dapat menjadi sebuah organisasi kartunis yang memang diakui dan didukung oleh para kartunis Indonesia.
Perjalanan waktu kemudian juga mencatat, periode kepengurusan Pakarti tahun 2004-2009, saya tidak peduli bagaimana mekanisme pemilihannya, tersebutlah nama Jango Pramertha sebagai Ketua Umum Pakarti yang deklarasinya diselenggarakan di Bali. Penuh optimistime dan harapan, itu yang terlihat dari wajah sumringah para kartunis yang hadir dan menyaksikan prosesi penobatan pengurus Pakarti periode tersebut. Apalagi Bali bagi sebagian besar kartunis Indonesia merupakan pintu gerbang internasional; sehingga layak bila dengan ditempatkannya Pakarti di Bali akan dapat membuka akses internasional; itu artinya, akses bagi para kartunis Indonesia untuk dapat menikmati kelanjutan dari pergaulan tersebut. Apakah itu dalam bentuk sosialisasi atau peluang-peluang lain yang pada dasarnya bakal meningkatkan harkat dan martabat kartunis Indonesia di kancah dunia.
Tetapi, lagi-lagi tetapi, bahwa berbuat memang tidak semudah kita berkhayal atau berimajinasi. Harapan dan angan-angan dapat saja setinggi langit, tetapi fakta adalah fakta; yang akan bicara apa adanya. Dan di luar arus organisasi Pakarti, ternyata kita dapat melihat bahwa kartunis Indonesia toh tetap saja melakukan rutinitas “takdir” yang melingkupi dirinya; yaitu, berkarya, mengirim karya itu ke media atau ke penyelenggara lomba, atau membuat ilustrasi untuk proyek-proyek buku; mungkin sebagian lain ada yang sibuk di animasi, dan lain-lain. Kata kartunis yang dimaksudkan di sini adalah kartunis yang tidak organik dengan suatu institusi penerbitan atau bisnis lain. Mereka yang orang menyebut free-lancer; yang bisa makan kalau ada kerjaan; yang tidak tahu bisa makan atau tidak kalau tidak ada karya yang dimuat, tidak ada honor yang datang, tidak ada karya yang menang di lomba dan lain-lain.
Sementara itu para kartunis yang masuk kategori “papan langit”, seperti GM Sudarta, Pramono, Dwi Koendoro, Priyanto S dan lain-lain praktis sedang disibukkan oleh rutinitasnya dan sekian agenda yang bertumpuk-tumpuk. GM Sudarta kini sibuk mengajar di sebuah universitas di Jepang. Pramono dan Priyanto sibuk mengintensivikasi Museum Kartun Indonesia Bali; Dwi Koendoro selain usreg dengan Panji Koming-nya juga ada beberapa agenda yang terkait tidak selalu sama kartun, tetapi itu sangat menyita waktunya sehingga praktis mustahil ada kartunis muda yang bisa sambat: “Mas, sudah lima hari ini, saya gak dapat honor sehingga tak bisa kasih belanja buat anak istri....”
Tidak relevan. Organisasi kayak Pakarti tak ada kaitannya dengan urusan rumah tangga dan kesejahteraan kartunis. Benarkah?
Menjadi kartunis, sebuah pilihan profesi, sebenarnya sama saja dengan menjadi yang lain: makelar, tukang becak, sopir, pemborong, wartawan, dalang wayang kulit, pelukis, pengamen, kondektur, pegawai negeri, buruh pabrik, manajer perusahaan, direktur, dokter, bintang film atau apapun! Setiap pilihan selalu ada sisi plus dan sisi minusnya. Karena itu hukum alam atau hukum keseimbangan. Bahasa kerennya, kasualitas obyektif.
Di Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu) dapat anda observasi apa yang dirasakan tiap-tiap anggotanya. Senang atau tidak senangkah mereka menjadi kartunis? Sebagian ada yang nyambi jadi pegawai bank, guru, buruh pabrik atau pekerja serabutan; tetapi sebagian yang lain, benar-benar hidup dari mengartun atau menggambar kartun.
Persoalan serupa dapat pula anda tanyakan kepada kartunis Jitet Koestana (yang nyaris menjadi langganan sebagai pemenang di berbagai lomba internasional dengan hadiah ribuan dollar/puluhan juta rupiah) padahal sebagai kartunis Kompas, semestinya ia sudah dapat hidup nyaman; tetapi mengapa rutinitasnya dalam berkarya untuk diikutkan di lomba kartun luar negeri seperti tak pernah bisa berhenti? Juga kepada Thomdean, kepada Didie SW.
Menjadi kartunis pada akhirnya memang tak beda menjadi yang lain. Harus masuk ke dalam rimba kompetisi yang luar biasa keras dan tak terduga. Masing-masing tidak dapat menunggu tips dan trik yang diberikan oleh Pakarti; mereka harus mencari sendiri bagaimana kiat hidup sebagai kartunis supaya tetap survive dan eksis. Untuk kasus ini dapat ditanyakan ke Benny dan Mice yang kini total bersandar hidup dan beraktualisasi diri lewat kartun.
Dari Salatiga, Jawa Tengah, 23 Mei 2009 sekitar pukul 14.00 WIB, tersiar berita telah terpilihnya kepengurusan Pakarti untuk periode 2009-2014, yaitu Is Ariyanto dan Mullie sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum Pakarti; bagaimana mekanisme pemilihannya memang tidak relevan untuk diperdebatkan karena situasinya benar-benar darurat; tetapi, Pakarti di bawah anak-anak muda yang tentu saja penuh dengan energi dan kesegaran tersebut, diharapkan mereka dapat menata kembali konstruksi organisasi baik dalam arti fisik/teknis maupun filosofis- ideologis.
Tanpa Pakarti, kartunis Indonesia memang dapat tumbuh dan berkembang, tetapi dengan adanya Pakarti, seyogianya kartunis Indonesia makin tumbuh dan berkembang; baik secara personal maupun kolektif, baik kuantitas maupun kualitasnya; baik keilmuan maupun kepemilikannya. Dengan kepemilikan yang memadai diharapkan kartunis Indonesia kelak juga dapat memberikan kontribusi riil (sembako atau uang tunai) bagi saudara-saudara lainnya yang masih kekurangan. Ya, kan? Apa artinya honor dan hadiah lomba gede kalau hanya dinikmati sendiri?
Bukit Kencana Jaya, Semarang, 25 Mei 2009
*) Demi penyebaran informasi analisis tersebut, tulisan ini dimuat di blog “Kartun Indonesia”, di “Kokkang” dan di note “FaceBook”; mohon pembaca maklum.
Sunday, May 10, 2009
Friday, May 8, 2009
Monday, April 27, 2009
Cekakak-cekikik dengan Priyanto Sunarto

Doktor yang Tidak Nyuntik
Oleh Darminto M. Sudarmo
Kartunis Pri S pasti tidak asing lagi bagi Anda penggemar kartun Indonesia. Kartunis yang bernama lengkap Priyanto Sunarto, kelahiran 10 Mei 1947 ini, ternyata bukan hanya kartunis beken; ia juga seorang pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB), pegrafis yang andal, penulis dan konseptor visual yang membanggakan. Usai menyelesaikan S3-nya dengan disertasi “Metafora Visual Kartun Editorial pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957” suami dari seorang istri bernama Euis Sukmadiana ini, pernah mengalami sakit serius. Orang menyebutnya stroke; tetapi berkat upaya yang gigih untuk sembuh, sekarang kesehatannya semakin membaik. Dan sang istri, yang kini selalu mendampingi ke mana pun Pri S melakukan aktivitas, benar-benar aktif menjaga dan merawat suaminya supaya terhindar dari makanan atau minuman yang dilarang dokter. “Yah, namanya seniman, kadang-kadang muncul b
andelnya; suka nekad, terutama kalau Pak Pri lihat kacang; tak tahan dia untuk tidak mencicipi,” ujar Nyonya Euis lebih lanjut sambil senyum simpul.Bagi penulis, Pri S kini sudah kembali ke posisi semula; artinya, sudah back to basic; yaitu Pri yang suka bercanda, riang dan tak jemu menebar tawa bila bertemu dengan kawan-kawan seprofesinya. Para kartunis secara bergurau suka menyebut dirinya “orang gila”, jadi wajar kalau mereka bertemu suasana langsung seru. Sesekali ledek sana, ledek sini, lalu gerrr! Dan itulah dunia orang-orang kreatif yang otak dan hatinya tak pernah berhenti bekerja memunculkan gagasan-gagasan segar, baru, dan terutama nakal (tapi genial).
Untuk lebih jauh mengenal Pri S, Kartun Indonesia memuat wawancara khusus dengannya; semoga Anda dapat menikmati dan mengambil manfaat dari obrolan yang unik ini.
Di antara tiga bidang seni: desain, seni rupa lukis dan kartun mana yang paling diminati Pak Pri habis-habisan? Mengapa?
Tak ada yang habis2an, ntar belum mati dah habis... ngartun sih termasuk kewajiban yg dinikmati. Gambar bebas sesukanya, di kertas ato di kanvas dikerjakan kalo luang. Biasanya kalo rumah lagi sepi,karena gak tenang kalo diliatin orang, gak bebas gituuu. Desain sih sekarang lebih banyak supervisi daripada ngoprek langsung. Baru mau ikut ndesain sendiri kalo proyeknya asik menantang aja, ogah yang rutin...
Kalau menengok minat di masa remaja dulu, sebenarnya Anda berkeinginan menjadi apa, kartunis, pakar desain, pelukis, dosen atau lainnya? Mengapa?
Dari kecil sih suka gambar, tapi cita-cita jadi supir truk, bisa jalan-jalan kemana saja yang jauh, bebas... Saat SMA, 1962, gabung dengan sanggar gambarnya Pak Ooq (Dukut Hendronoto), gaul sama pelukis. Masuk ITB 1965 juga bayangannya jadi pelukis, tapi dibujuk Mas Tanto masuk Grafis. Sebagai sesama penggemar kartun saya nurut. Selain belajar seni grafis, studio grafis jaman dulu sih diajarin desain juga, desain grafis. Saya lulus dengan proyek ilustrasi karya sastra: Danarto, Sutardji dan George Orwell. Jaman itu sastra dianggap keren, eksistensialis, kaum absurd.. Begitulah akibat gaul sama sastrawan. Niatnya setelah lulus ke Jakarta, tempat uang bertebaran bebas. Pak Pirous keburu menawarkan saya ikut membantu membuka studi desain grafis. Sama suhu tak bisa nolak, terpakulah saya di kota mojang priangan ini. Tapi tetep aja bolak-balik jakarta-bandung, train-set (bukan jet-set), sampe sakarang... Jadi kalo ditanya kenapa jadi begini, tak ada alasan jelas, sekedar terjebak nasib dan mencoba melakoni dengan baik saja, Oooooooh dasar nasib...
Tahun 1973 Anda lulus dari ITB sebagai sarjana seni rupa, tetapi dalam CV Anda pada tahun tersebut juga tercatat sebagai Staf Pengajar di FSRD-ITB untuk program studi Desain Komunikasi Visual, bagaimana kisahnya ini?
Waktu 1973 semua lulusan disebut sarjana seni rupa saja, embel-embelnya tercatat di ijasah. Begitu lulus jadi guru bantu FSRD, jadi ngajarnya ngacak apa saja. Tapi yang terbanyak ngajar di desain grafis. Baru 1983 desain grafis ganti nama jadi desain komunikasi visual, karena ada materi kuliah televisi dan animasi. Saya bantu Pak Suyadi (Pak Raden) di kuliah ilustrasi dan animasi. Ya masih primitip lah animasi celluloid dan kamera 16mm. Tahun 1980 mana ada komputer, semua pake tangan. Yang sulit ya memotivasi mahasiswa supaya bersemangat gambar sekitar 1000 halaman untuk bikin animasi lima menit. Baru tahun 90an animasi bisa pake komputer. Sekarang animo animasi dan multimedia makin marak... Meski DKV berkembang pesat, kuliah kesayangan saya tetep ilustrasi...
Seperti halnya seni-seni lain yang tipikal, kompleks dan penuh dinamika, di desain tentu ada hal yang memusingkan tetapi sekaligus mengasyikkan? Begitu juga di seni lukis dan seni kartun?
Ya sama ya beda, semua mengasyikkan dan memusingkan kalo mau pusing, kalo gak mau hasilnya rutin aja ya harus siap pusing, mau bikin kartun, gambar bebas, desain... Bedanya cuma di setting pekerjaan, dan bagaimana meng-explore imajinasi. Besok 8 november saya diminta jadi moderator diskusi Art vs Design di Jakarta. Rupanya teman-teman tahu saya ada di dua dunia itu, dan pasti tak berani memihak ke salah satu kubu. Makanya dipasang di tengah... Sebetulnya kalo kita serius melakukan sesuatu demi kesenangan diri (bukan orang lain), beberapa hal pun bisa kita nikmati sama kok, semua sama asiknya. Kita jadi tertantang karena tiap medium punya ciri, kelebihan dan keterbatasan sendiri. Lumrah laaa, berkebon juga punya kepusingan dan keasyikan sendiri kan? Coba tanya Bu Praba...
Orang awam memahami seni dari kategori sederhana; yakni seni masa lalu, masa kini dan masa mendatang (eksperimental/kontemporer dll); sebenarnya bagaimana seharusnya memahami apresiasi tentang seni (khususnya seni rupa secara umum) yang benar menurut Pak Pri?
Hehehehe, di seni itu segalanya benar, yang membuat beda cuma ketemu dengan aspirasi pelihat ato nggak? Membagi seni dari kurun waktu ya bener juga, yang jadul, yang modern, yang hiper-modern, boleh saja. Memahami seni bisa gampang kok, buat orang awam ya apa yang menyenangkan hatinya. Yang merasa sudah tidak awam ya cari kriteria lebih canggih untuk “memahami” seni: kebaruan, kecanggihan, kefilosofian, keanehan, kegilaan, ke’muri’an.. Makin canggih kepiawaian kriteria makin butuh pakar, kritikus, kurator dan kalo banyak duit jadi kolektor (bisnis dan bursa seni). Kadang seni memang buat dikagumi, meski belum tentu dipahami. Kayaknya semua benar-benar aja deh, memahami juga terserah masing-masing kan?

Di perguruan tinggi seni rupa, tersedia jurusan Seni Murni, Desain Komunikasi Visual dan lain-lain, jurusan untuk Ilustrator (Majalah, koran, buku dll) sepertinya belum ada; mengapa demikian? Bukankah di masyarakat serapan untuk tenaga ilustrator sangat menjanjikan?
Mungkin tahun depan IKJ akan buka jalur studi Ilustrasi, cita-cita almarhum S. Prinka sejak limabelas tahun silam. Yang ragu buka jalur ini justru institusi, takut gak laku. Masalahnya, mental bangsa kita kan masih feodal. Buktinya semua orang pingin pake gelar sarjana sampe profesor, beli pun jadi. Ini kan feodalisme baru. Akibatnya institusi enggan bikin program diploma, sarjana muda gak keren.. Bidang yang laku dan bergengsi juga dokter, insinyur, ekonomi, hukum. Seni rupa gak direken. Baru sejal 1990an DKV jadi sekolah idaman remaja. Tapi ilustrasi tetep bukan pilihan. Pertama, banyak yang masuk DKV gak pinter gambar. Banyak yang pinter gambar ogah jadi tukang gambar, derajatnya tukang. Untung anak sekarang lebih jeli liat peluang. Di era komputer sekarang segala serba canggih tapi generik dan dingin. Orang kangen lagi pada goresan tangan. Tenaga ilustrator handal jadi nilai tambah di industri komunikasi visual. Kebetulan banyak alumni IKJ yang jadi ilustrator profesional di ibu kota, dan mau bantu mengembangkan profesi ilustrator.
Begitu juga melihat perkembangan seni kartun, sepertinya juga cukup baik prospeknya; mengapa jurusan (khusus) untuk seni kartun, sepertinya juga belum ada di perguruan tinggi seni di Indonesia; mengapa demikian?

Ya sama saja alasannya, ngapain sekolah tinggi-tinggi cuma jadi kartunis. Di masyarakat kartun dan komik kan masih dianggap buat anak-anak, seni yang tidak serius. Di tengah pendapat negatif ini, anak sekarang juga lebih condong ke komik, utamanya manga. Makin aja kartun tersisih. Temen-temen dari Kyoto Seika punya keluhan sama tentang political cartoon dan single framed cartoon, di Jepang tak lagi populer. Orang bosan bicara politik, lebih suka yang santai asik-asik aja. Mereka di jurusan kartun Kyoto bersatu menggalakkan kartun, dan punya dana untuk itu. Di Indonesia pun minat lulusan seni rupa ke kartun politik mulai menurun. Kebanyakan memilih jalur kartun lelucon, kartun untuk branding dan maskot, kartun sosial seperti Benny n Mice, atau jalur komik. Balik ke pertanyaan, kenapa gak ada sekolah khusus kartun? Ya itulah, kartun dianggap gak serius, gak gengsi, gak menjamin masa depan... Coba tanya anaknya Mas Kelik (Pos Kota), maukah jadi kartunis? Anakku sendiri jawabnya “made su”, masa depan suram...
Kalo jadi kartunis humor/gag banyak yang minat. Liat aja peningkatan kualitas kartun di majalah hiburan, pakaian, distro, game, toys, merchandise. Tapi kartun politik kan langka. Mungkin karena sudah gak jaman politik panglima lagi, sekarang kan jaman korupsi panglima. Anak sekarang asuhan budaya global, nggak terlalu peduli politik. Kata ideologi, partai, nasionalisme, sudah kurang bersinar di kepala anak muda, gak fun katanya. Lagi pula kartun politik lebih sulit bikinnya, mesti tau konteks politik, membaca baca situasi di belakang panggung, menakar penangkapan pembaca, mengukur kepekaan situasi, wah pusing dah... Udah jadi belum tentu diapresiasi. Makanya enakan jadi kartunis lucu-lucuan aja katanya, asal orang senyum hatinya gembira, sukses.`.
Mungkin ini agak menyimpang sedikit, menurut Pak Pri (pribadi), sebenarnya apa saja pertimbangan di tingkat konseptor kurikulum dan silabus untuk perguruan tinggi seni di Indonesia, sehingga jurusan-jurusan seperti ilustrasi, kartun dan lawak seperti disebutkan di atas terkesan dinafikan dan tidak dilirik sama sekali?
Dua alasan kuat. Satu dah dijawab di atas. Ke dua, guru yang bisa ngajar ilustrasi yang bagus juga langka kan? Kalo bikin satu jurusan, minimal harus ada lima yang menguasai bidang itu, berikut praktiknya, bukan teori doang... Yang jago gambar belum tentu pinter ngajar, juga belum tentu mau ngajar. Ngajar itu gajinya tau sendiri la, juga kalo muridnya pinter kan nambah pesaing di pasar (^__^)
Begitu berjubelnya aktivitas Pak Pri di pekerjaan, keanggotaan profesi, komunitas kartun, keluarga dan lain-lain, bagaimana kiat Anda membagi waktu sehingga semua bagian kebagian jatah?
Waktu sih berjalan terus, tinggal pinter-pinter mengisinya. Waktu masih full energy gak ada masalah, kerja 18 jam sehari oke. Sekarang tenaganya sudah berkurang ya mesti ngurangin kegiatan, pilih-pilh mana yang paling manfaat buat orang. Sukur aja masih kepake, masih ada yang butuh juga.
Di antara berderet prestasi di bidang desain grafis/visual, seni lukis dan seni kartun, bagian-bagian mana saja yang Anda anggap sangat mewakili totalitas eksistensi Anda?
Aduh tanyanya sulit amat, mana saya tau saya seperti apa dan bagian mana paling hebat? Ngaca aja hampir gak pernah, malu liat muka sendiri, peyot... Bener Mas, saya gak pernah tanya “ lu mau jadi ape?” kalo kebanyakan mikir gituan waktu habis. Jadi ya tiap hari kerjain aja yang diadepin. Saya ngikutin aja gimana situasi minta saya berperan apa, jadi tukang kartun, jadi guru, jadi babby sitter, joker, penggembira, kacung kampret, gimana ramenya aja... Kalo kecapean ato sakit ya brenti dulu istirahat, gak target-targetan, bisa stressssss...
Sudah sekian lama perjalanan, pencapaian dan persembahan karya Anda bagi insan persenirupaan Indonesia, masih adakah obsesi atau cita-cita yang belum terlaksana dan ingin Anda capai?
Entah ya... yang sampe hari ini belum tercapai ya cuma beresin kamar kerja sama perpustakaan yang acakadut. Perlu waktu dua minggu diem di rumah khusus beberes, dan itu gak mungkin. Sebagai cowok panggilan harus siap disuruh apa aja kemana saja. Obsesi terbesar ya pingin bisa santai ngerjain apa yang disuka, belum kepikir secara khusus ngapain, Gambar? Musik? Ngoprek? Tiduran di pinggir sawah sambil makan singkong bakar termasuk kenikmatan juga..
Mungkin Anda ada uneg-uneg tentang apa saja; apalagi tentang kartun atau kartunis atau pemerintah atau tetangga atau kawan atau orang di sekitar Anda dan ingin memberi komentar atau guyonan atau membuat karikaturnya, silakan memanfaatkan ruang yang tersedia ini....domo-domo arigato!
Gak ada, semua oke-oke aja, gak oke ya gapapa juga..... makasi juga... berarti per-topik, sesuai versi atau yang dianggap sreg para kartunisnya, khususnya kartunis-kartunis senior Indonesia; yaitu: Pramono R. Pramoedjo, GM Sudarta, Dwi Koendoro, Priyanto S, T. Sutanto dan Jitet Koestana. Kalo tentang Mas Tanto coba tanya Basnendar (Solo) yang bikin tesis tentang kartun T. Sutanto.
Biografi
Nama : Priyanto Sunarto
Lahir : Magelang , 10 Mei 1947
Pekerjaan : Staf Akademik Institut Teknologi Bandung (gol. IV/a)
NIP : 130682811
Alamat : Jl.Sekeloa 23, Bandung 40134, Indonesia
Tlp & facs : 022. 250 2771
Pendidikan : SMA. Kanisius, Jakarta, lulus 1965
: Sarjana Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, lulus 1973
Istri : Euis Sukmadiana
Anak : Ariani Savitri, Sakri Agiyanto, Munadi Aliyanto,
Kendi Maulanto, Andriyanto
Menantu : Achmad Turmudzi, Liliek Prihatini, Luci Merciana,
Widya Nugrahani
Cucu : Hilmy Muhammad Dzaki, Hasna Meisya Qotrunada,
Kaffi Fathir Raditya
Jabatan & Pekerjaan
Sejak 1973 Staf Pengajar di FSRD-ITB program studi Desain Komunikasi Visual
Sejak 1978 Staf Pengajar di FSR-IKJ Komunikasi Visual dan Seni Murni
1984-1990 Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD –ITB
1991-1993 Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD –ITB
1997 - Anggota Majelis Jurusan Desain FSRD-ITB
2005 - Ketua Majelis Jurusan Desain – FSRD-ITB
2005 - Anggota Senat FSRD-ITB
Penelitian
1979-80 Anggota Tim Riset “Penelitian Persepsi Gambar pada Masyarakat Pedesaan”
(UNICEF & Jurusan Komunikasi Massa FISIP-UI.)
1984 Anggota Tim Survei Inventarisasi Desain di Jawa Timur (FSRD-ITB&BPEN)
1991 Ketua Tim Survei Budaya Korporat PT. Perumpel wil-III & IV
1995 Ketua Penyusun Jabatan dan Kompetensi Desain Grafis (Dikmenjur)
1997 Ketua Peneliti Desain Perajin Stempel di Bandung (LPPM-ITB)
2002 Ketua Penyusun Jabatan dan Kompetensi Komunikasi Grafis (Dikmenjur)
Penghargaan:
1969 : Penghargaan karya grafis terbaik Pameran tahunan Seni Rupa ITB
1971 : Penghargaan karya grafis terbaik Pameran Generasi Muda 1971, Jakarta
1977 : Pemenang logo 450 tahun kota Jakarta, Pemda DKI. Jakarta Raya
1978 :Pemenang logo Asosiasi Kontraktor Indonesia ( AKI ), Jakarta
1981 : Penghargaan unique design, Lomba Logo “Regional Da’wah Council of Southern Asia and Pacific (RISEAP ), Kualalumpur
1982 : Juara-2 lambang Sumpah Pemuda, Menteri Muda Pemuda dan Olahraga.
1983 : Penghargaan IKAPI untuk desain & ilustrasi terbaik buku “ Humor Sufi”
1985 : Juara-2 lambang PT. INDOSAT, Jakarta
1988 : Kartun Editorial terbaik-1 tahun 1987 PWI Jaya
1989 - 1992: Kartun Editorial terbaik unggulan 2/3 PWI Jaya
1993 : Kartun Editorial terbaik-1 tahun 1992 PWI Jaya
1994 : Kartun Editorial terbaik-2 tahun 1993 PWI Jaya
1992 : Penghargaan IKAPI desain buku & ilustrasi terbaik 1992 “Mengembara ke kaki langit” (Grafiti)
2003: Kartun Editorial terbaik-2 tahun 2002 PWI Jaya
Karya Desain Grafis
Buku, Ilustrasi dan Desain Cetak lainnya: Desain Buku bersama S. Prinka & Ilustrasi "Saat Menuai Kejahatan" kumpulan esei kriminologi karya Yesmil Anwar (2004), Desain Buku & Cover “Perjalanan Malam Hari” kumpulan esai Arsitektur karya Yuswadi (2003), Maskot “Pemilihan Umum 2004” (2003), Maskot "Aqua Peduli", Citra Lintas (1997), Maskot Alumniade ITB (1997), Cover Design: Madhep Ngalor Sugih,Madhep Ngidul Sugih karya Umar Kayam(1997), Ilustrasi kampanye AQUA PEDULI(1996), Desain & layout buku G. Sidharta (1996), Cover Design buku-buku ekonomi karya Sjahrir (1995), Sugih Tanpa Bondho karya Umar Kayam ( Grafiti 1995 ), Ilustrasi Kalender harian Lippo Bank 1993 dan 1994, Baratayudha di Negeri Antah Berantah, Mangan Ora Mangan Kumpul ( 1993 ), Desain & ilustrasi Legenda Timor “mengembara ke kaki langit “ ( Grafiti 1992 ), Pengarah desain buku seri Fabel Grafiti Pers (1991-1992), Ilustrasi buku”Tikus Desa dan Tikus Kota” (1991) dan “Tikus membalas Budi “(1992 ), Kordinator kalender OK! dan Majalah Editor 1988, Design kalender Perumtel 1987, Buku Humor Mini “Langka Tapi Bohong” (Grafiti Pers, 1987 ), Desain Prangko Pavilion Indonesia EXPO’86, Vancouver (1986), Kontributor kartun untuk Kampanye Jamban Pribadi, Ditjen Cipta karya, “Tiada hari Tanpa jamban” (1986), Design & Ilustrasi kalender Perumtel 1985,Folder & Buku untuk Perumtel (1985-1986 ), Buku Pengantar Kapal Penumpang KM Rinjani (Ditjen Perla, 1984) ,design & illustrasi Kalender”Warna Agung” 1983, Desain & Ilustrasi buku “Humor Sufi” (Pustaka Firdaus, 1983 ), Buku Penerangan tentang Lingkup Senirupa (FSRD- ITB 1983), design & illustrasi Kalender”Warna Agung” 1983, Kontributor kartun Rubrik “Trio Tikus” majalah Zaman (1981-1983), Ilustrator Rubrik Indonesiana Majalah TEMPO (1981 - 1994), Kalender Pita “TEMPO” 1979, Kalender Pita Decenta 1978, Cover buku-buku Ilmiah PT Bina Cipta (1977-1978), Folder & Poster “Donor Darah” PMI Bandung (1976), Kalender ITB 1974, Kemasan Jamu Tradisional “Karoehoen” Bandung ( 1969 ), Cover dan Ilustrasi beberapa buku PT Jambatan dan badan Penerbit Kristen (1968-1971), Ilustrasi Bibliophile Pramudya Ananta Toer bahasa Prancis oleh “Alliance Francaise” (1968)
Logo: API "Asosiasi Pematung Indonesia" (2004), LSM “Jatiluhur” Pemberdayaan Prempuan (2004), "Joglo Progo" steak house, Bandung (2004), "Rich Cafe", Bandung (2004), Logotype Institut Teknologi Bandung (2003), Komunitas Penyiaran Jawa Barat “Balarea” (2002), Perusahaan ikan “Segara Iwak” Jawa Barat (2002), Pameran 70 tahun G. Sidharta (2002), Politeknk Seni Yogya (2001), Koperasi & Warung "Laos", Bandung (1999), Perusahaan Tanaman Hias "Tepas"(1999), 50 th Senirupa ITB (1997), “Kirim kabar,tulis surat” Pos dan Giro (1995), Graha Afiat Pradika (Info Kesehatan) (1994), Logotype Piala Vidia (Media Elektronik) (1992), PT Pramana dan Yayasan Seni Rupa Indonesia, YASRI (1991), Logotype Adhicipta, Adhikara, Adhidarma, Piala Persatuan Insinyur Indonesia (1991), Kintamani dan The Reefs di Hotel Bintang Bali, Kuta (1990), Asian Energy Institute-AEI, New Delhi (1990), PT Petrosol Geotechnique, Bandung (1987), “Banjar Gruppe”, kelompok musik avantgarde, Berlin (1986), Indonesia Pavilion EXPO’86 Vancouver (1985), Logotype Piala S. Tutur, Suryo Sumanto, Widya untuk FFI (1984), MTQ-XII, Banda Aceh (1980), Lembaga Humor Indonesia (1978), PT. Pacto Tour & Travel (1978), Berkala ITB ( 1976 ), “RUNA” Jewelry (1974), Logotype Piala Citra & Mitra untuk FFI (1974)
Kartun Indonesia di Era Demokrasi Parlementer
Mengamati kartun editorial koran Jakarta tahun limapuluhan seakan menikmati pesta pora kebebasan pers. Koran dan kartun melempar kritik, cercaan bahkan tuduhan secara terbuka. Kartun sendiri sudah lama tampil di koran sebagai taman visual pelepas lelah dari membaca teks yang ketat linear. Tapi pada era demokrasi parlementer kartun sangat vokal dimanfaatkan sebagai alat menjatuhkan citra lawan politik. Kartun dengan bebas menyerang lawan, baik kebijakan maupun tokohnya. Masa itu Trial by the press seakan hal lumrah. Lelucon politik lewat kartun dieksplorasi dengan penuh semangat. Berkias (metafora) lewat gambar yang umumnya dipercaya sebagai upaya menghaluskan (sofistikasi) ungkapan, malah sering dipakai untuk memperkerasnya menjadi kasar.
Suasana kritik terbuka ini tak lepas dari peran partai-partai dan ideologi yang setelah usai perang kemerdekaan berebut pengaruh menentukan jalannya haluan negara. Baik nasionalis, sosialis, komunis, maupun golongan agama merasa punya hak sama dalam mengisi kemerdekaan. Partai berebut posisi untuk duduk dalam kabinet. Koalisi antar partai dan golongan dilakukan untuk menjatuhkan kabinet yang rata-rata umurnya tak lebih dari setahun. Konflik tak hanya terjadi antar partai, tapi juga antar tokoh senior dengan anggota muda separtai. Di tengah persaingan ini tentara pun mau ikut mengatur karena merasa berjasa merebut kemerdekaan. Sementara itu masalah internal tentara antara panglima pusat dengan daerah tak kunjung selesai. Masa yang sangat dinamis dimana kekuatan berbagai pihak berimbang mengakibatkan situasi tak pernah stabil dan penuh perseteruan.
Berbagai masalah yang muncul di negara muda m
enjadi bahan pertikaian antar golongan. Perubahan dari negara serikat menjadi negara kesatuan jadi masalah pertama, terjadi penolakan dari pimpinan negara bagian. Janji pengembalian Irian Barat tak kunjung terlaksana. Pemilihan umum tertunda-tunda. Rencana pakta pertahanan dengan Amerika (Mutual Security Act) ditentang banyak pihak yang anti Barat. Niat Angkatan Darat membubarkan parlemen 17 Oktober 1952 digagalkan Presiden. Pemberontakan muncul di berbagai daerah. Inflasi melambung, banjir barang impor sambil harga kebutuhan pokok makin mencekik. Korupsi pejabat dan kolusi merajalela, sementara kemiskinan terjadi dimana-mana. Peristiwa demi peristiwa tumpang-tindih tak terselesaikan. Berbagai issue negatif ini dijadikan senjata para oposan di parlemen untuk menjatuhkan kabinet melalui mosi tidak percaya. Silih berganti diangkat perdana menteri dan menteri-menteri baru. Dalam waktu tujuh tahun tujuh kali pula kabinet berpindah tangan.
Untuk bersaing merebut opini tiap golongan memanfaatkan koran sebagai media menyebarkan faham dan pendapat. Sejak masa penjajahan koran memang telah menjadi alat perjuangan melawan penjajah. Sikap demikian juga menonjol pada koran masa revolusi. Tahun limapuluhan koran digunakan pula sebagai alat kampanye partai atau koran partisan, misal Suluh Indonesia menyuarakan aspirasi PNI, Harian rakjat dan Bintang Timur mewakili golongan kiri, Abadi sebagai suara golongan Islam. Beberapa koran mencoba bersikap independen seperti Pedoman dan Merdeka, meski kadang cenderung ke salah satu pihak. Indonesia Raja bersikap anti kiri dan kritis terhadap pemerintah, terutama Soekarno.
Melalui koranlah kartun editorial berkiprah mengomentari berbagai kejadian, sesuai misi dan ideologi redaksi. Kartun mendapat kedudukan penting karena bahasa gambar lebih cepat ditangkap pembaca dibanding artikel tertulis. Beberapa koran meletakkan kartun pada halaman pertama atau setidaknya ke tiga. Harian rakjat hampir tiap hari menayangkan kartun. Teknik gambar dengan kuas lebih banyak ditampilkan daripada dengan pena, kadang juga crayon hitam dipakai untuk nada tengah. Kartun dicetak hitam putih sesuai kemampuan teknologi koran masa itu. Beberapa kartunis editorial yang menonjol antara lain Ramelan (Suluh Indonesia), Sibarani (Bintang Timur), Mieke Sd (Abadi), S. Soeharto (Indonesia Raja). Abdul Salam dan Dukut Hendronoto (Ooq) yang berkartun pada masa revolusi tak banyak berperan dalam perang koran Jakarta masa itu. Abdul Salam mengisi koran Kedaulatan Rakjat di Yogya, Dukut Hendronoto berkarya di majalah Angkatan Darat. Melalui koran-koran kartunis secara terbuka mengomentari situasi sesuai pandangan korannya. Seorang tokoh politik dapat diopinikan sebagai pahlawan di satu koran, sekaligus pecundang di koran lawannya. Burhanudin Harahap bisa jadi pahlawan pemberantas korupsi di Indonesia Raja, sementara di Suluh Indonesia diolok habis selayak pesakitan.
Gaya gambar kartun editorial yang muncul kebanyakan realistis mendekati ketepatan objek, baik manusia maupun kelengkapan sekitarnya. Sibarani sering lebih bebas tak terlalu taat anatomi lewat garis kontur spontan pena saja. Gaya garis demikian kemudian dikembangkan banyak kartunis editorial di era orde baru. Beberapa idiom kartun seperti tubuh besar untuk yang kuasa dan tubuh kecil mewakili rakyat, orang gendut sebagai koruptor, bersarung untuk golongan muslim, hidung panjang untuk orang barat, telah digunakan masa itu. Stereotype demikian masih kita jumpai pula dalam kartun masa kini. Yang menarik adalah, secara umum kartunis masa itu menampilkan profil wajah Indonesia dengan baik. Profil lokal juga sangat umum tampak pada gambar dan ilustrasi buku, majalah, koran dan iklan masa itu. Sepertinya para penggambar masa itu lebih “pede” pada ras sendiri daripada perupa masa kini.
Menggunakan binatang sebagai kiasan pun bebas dilakukan. Golongan Islam sebagai onta, Nasionalis banteng, Komunis beruang, politikus dibrongsong seperti anjing, Simbolon berwajah monyet, Rasuna Said kucing garong, Wilopo menyembunyikan kepala seperti burung onta, Hatta dimisalkan sebagai serigala induk Romulus Remus pendiri kota Roma. Padahal bagi orang Indonesia menggambarkan tokoh sebagai binatang dianggap penghinaan. Tetapi menyamakan golongan dengan binatang masih bisa diterima, seperti halnya di Amerika keledai mewakili demokrat dan gajah mewakili Liberal. Perbedaan masa itu dengan masa kini adalah penggambaran koruptor sebagai kucing, bukan tikus. Mungkin karena koruptor masa itu terlihat manis padahal maling, seperti kucing. Boleh jadi koruptor sekarang lebih menjijikkan seperti tikus.
Untuk pemindahan situasi dalam berkias kadang dipilih budaya setempat yang dikenal seperti lomba panjat pinang, perang partai jadi adu layang-layang, Hatta beradu silat dengan Aidit, kabinet Ali kehilangan muka, Bung Karno memukul tong kosong. Tapi banyak pula kartun yang menggunakan idiom global seperti plintiran poster filem Hollywood, lagu Barat yang sedang populer, Don Quischot de la BH, tiup lilin ulang tahun, bicara bahasa Belanda atau Inggris. Harian Rakjat dan Bintang Timur yang kiri pun kartunnya menggunakan idiom kota: Gone with the wind, kuda Troya, Pesta dansa-dansi PSI, serigala dan tiga babi kecil dari Walt Disney misalnya. Pembaca diharapkan dapat menangkap kendaraan kiasan budaya global tersebut. Ini menunjukkan bahwa permainan kartun ditujukan untuk golongan yang tinggal di perkotaan dan berpendidikan baik. Yang menonjol pada masa itu, berkias digunakan untuk memperkeras olokan. Sikap demikian berbeda dengan kartun masa matang orde baru yang umumnya lebih sembunyi-sembunyi, elipsis, metafora samar, dan eufemisme. Sindiran kartun masa demokrasi parlementer sangat terbuka, tunjuk hidung dan seringkali sinis.
Setelah pemilihan Umum suasana makin memanas. Masjumi yang sementara dianggap kekuatan terbesar hanya mendapat peringkat kedua di bawah PNI, karena ditinggalkan NU. PSI yang banyak berkiprah sebelumnya cuma di peringkat kedelapan. Sementara itu kabinet makin tak mesra dengan tentara, Pembelotan militer daerah kian marak, dibarengi penyelundupan melalui pelabuhan di luar Jawa. Dengan dukungan A.H. Nasution, Soekarno mengumumkan keadaan darurat perang (SOB) pada 14 Maret 1957. Sejak itu praktis kekuasaan negara berada di tangan presiden, dan surutlah kekuatan para penentangnya. Kaum Nasionalis dan Kiri terus mendesakkan tuduhan pada golongan sosialis dan Masjumi sebagai musuh negara, keadaan makin tak berimbang. Kartun editorial menjadi sangat sarkastik dan sepihak digunakan untuk memukul lawan politik Soekarno, pemimpin besar revolusi. Sejak dekrit presiden 5 Juli 1959 Indonesia memasuki era otoriter Demokrasi Terpimpin hingga tahun enampuluh lima.
Sunday, March 22, 2009
Makhluk Aneh Bernama Dwi Koen

ANDA pasti sudah mengenal kartunis Dwi Koendoro, bukan? Makhluk yang satu ini benar-benar tiada duanya di dunia. Ibarat tentara, dia punya banyak senjata. Dari senapan, pistol, belati hingga rantai untuk menjerat leher musuh. Itu dari senjata jenis ringan. Senjata berat: martir, meriam bahkan rudal dia punya. Maka untuk “melawan” musuh yang bagaimanapun dia siap. Dalam bidang seni juga begitu. Bukan hanya mengartun, menggambar ilustrasi, menulis, mengarang lagu, hingga menyutradarai film; bahkan untuk main film pun dia siap dan bisa! Pingin mengenal lebih seru tentang dia? Berikut wawancara yang khusus untuk Kartun Indonesia.
Melihat talenta Anda yang begitu banyak dan semuanya berjalan seperti yang Anda harapkan (kartun, ilustrasi, skenario, film, advertensi, animasi bahkan menulis lagu/musik) bisa Anda deskripsikan seperti apa sebenarnya susunan otak yang Anda miliki?
Sama dengan otak Anda. Otak semua orang. Yang agak ribet cuma terlalu banyak pintu, banyak lorong banyak kamar bak labirin. Tahun 1993 ada seorang wartawan dari Fukuoka, Jepang mewa-
wancarai saya sebagai kartunis. Salahnya dia datang di hari Selasa ketika saya lagi ngedit film. Dia bingung, saya juga bingung. Saya terangkan profesi harian saya selaku orang film. Jadi sah saya disebut sebagai Praktisi Multimedia. Otak saya? Biasa saja, kok. Cuma keburu banyak eksalator dan lift yang makin tua makin legreg. Makin tua kamar kamar itu semakin melompomg dan bulukan. Lorong-lorong makin jarang saya lalui. Istilahnya sedikit pelupa. Untuk mengingat konfigurasi lorong-¬lorong itu untung ada komputer yang membantu. Kalau tidak, betapa saya kesasar di otak sendiri. Tidak deskriptif, kan?Selain itu, dalam menulis apakah itu artikel, cerita pendek titan hanya sekadar memo, kecenderungan Anda untuk berhumor begitu kuatnya sekuat bahasa fisik Anda di tempat kerumunan orang ramai; mengapa bisa begitu?
Aneh, ya. Butet Kartaredjasa mengatakan "Saken
thir kenthire Pailul, Luwih kenthir sing nggawe Pailul". Padahal kita tahu, Butet lebih kenthir dari saya. Yah, apa boleh bust, marilah kita memandang dunia ini dengan fenomena kenthir. Kita bukan pelawak, sekadar orang kenthir. Menurut silsilah, saya keturunan RNG Ronggowarsto ke sekian. Menurut beberapa orang pula, Beliau itu orang jenius tapi sableng. Besyukurlah kata Butet, saya kebagian sablengnya.Panji Koming adalah sebuah fenomena yang amat khas Dwi Koendoro dan tiada duanya di Indonesia; dapatkah Anda jelaskan bagaimana ikon itu bisa lahir di negeri yang bernama Indonesia ini?
Ah masa, sih. Terus terang sejak kecil saya senang cerita lama.. Saya terpengaruh oleh strip kartun BC (lelucon zaman batu ) karya Johnny Hart (Alm). Ceritanya terpaksa rada panjang dikit. Waktu bekerja di Gramedia Film sebagai sutradara film iklan dan dokumenter, editor dan penulis skenario, menjelang akhir 1979 manajemen memerintahkan saya untuk menjadi Kepala Bagian Produksi. Karena merekrut tenaga luar, kalau kerjanya bagus minus gaji mahal. Bisa dengan gaji murah, tapi kemampuan manajerialnya jongkok. Bagi saya, jadi Kepala Bagian Produksi , secara karier itu bisa dibilang bagus. Tapi secara nasib artistikal bisa dibilang nekuk. Setup hari berurusan dengan kontrak kerja dengan klien. Mengatur jadwal kerja sampai membantu merencana cashflow dan pekerjaan non-artistik lainnya. Sedih melihat kawan-kawan artistik yang kreatif tapi kerja manajerialnya acakadut, Tak jarang saya harus mati-matian memback-up mereka. Maka saya ke harian Kompas yang satu payung manajemen dengan kantor saya. Untuk usul bikin kartun mingguan.
Saya diterima GM Sudarta (Oom Pasikom) teman satu tingkat waktu di ASRI ( Akademai Seni Rupa, Jogyakarta dulu, yang lebih dulu kerja di Kompas sejak 1965. Dan Rustam Affandi Alm) Desk editor Kompas edisi Minggu.
Saya berikan contoh kartun zaman Majapahit yang saya kasih nama "Pailul". Nama itu ditolak Rustam dianggap terlalu Jawa.. Dan dia meminta agar kartun saya berbau : "political cartoon". Saya usulkan nama "KOMING" akronim dari Kompas Minggu. Disetujui. Lalu saya tambah kata Panji, agar terasa ada "bau" usaha mencari kebenaran. Maka tgl 14 Oktober 1979 lahirlah Panji Koming. Sekitar 2-3 bulan kemudian ada klien yang khusus meminta saya menyutradarai filmnya. Sehingga 1 atau 2 minggu, tak ada Panji Koming. Pembaca proses lewat tilpon dan Telex ( belum ada fax atau SMS ). Terpaksalah sejak itu sampai hari ini ( 29 tahun kemudian ) Panji Koming harus nongol setiap hari Minggu. Tiga orang yang berjasa "memperkaya" eksistensi Panji Koming adalah: Pertama, Saini KM, pakar teater dari Bandung, yang tahun 1984 membuat drama komedi: "Panji Koming". Saini KM menaruh kisah Panji Koming pada zaman Majapahit setelah "Perang Paregreg" sekitar tahun 1400 SM. Kedua, istri saya Cik Dewasih yang menambahkan tokoh Ni Woro Ciblon, untuk membantu mengangkat masalah kewanitaan. Ketiga, GM Sudarta yang mengusulkan tokoh atagonis Bhre Ariakendor; Yang keempat.... Sorry ini tambahan ... yakni Dwi Koendoro atau saya sendiri. Burin. Yang menambahkan tokoh "Pailul", orang kampung yang slengekan, ceplas-ceplos sebagai counter part Panji Koming yang santun. Pailul ini kemudian amat disayang H Boediardjo (Alm) Mantan Menteri Penerangan.. Panji Koming dan Pailul penuh tantangan menggelikan dalam zaman Kalabendhu yang acakadut. Kenapa menggelikan? Ya namanya saja kartun strip. Bisa senyum geli, senyum kecut, senyum ngu-ngun, senyum prihatin atau senyum apapun.
Keberanian di massa Orde Baru dan Orde Reformasi konon berbeda nilainya? Menurut Anda dalam konteks apa saja dua orde yang beda itu kaitannya dengan proses kreatif penciptaan Panji Koming yang hadir setiap Minggu di Kompas itu?
Tidak usah saya, anda pun pasti merasakannya. Di zaman Orde Baru terpaksa slimpetan; zaman Orde Reformasi lebih bebas dan terbuka. Kita penganut natura artis magistra, proses kreatif kita dibangun oleh miliu, situasi dan kondisi sekitar kita. Waktu kerja di advertising, saya diminta untuk: "Do not talk to yourself”. Perlu diingat sejak kecil saya dididik di kepanduan, salah satunya adalah keja sistem beregu.
Sadar tak sadar ini pun masuk dalam pekerjaan saya pada Panji Koming. Waktu zaman Orde Baru tercatat beberapa teman dekat seperti wartawan foto senior Kartono Ryadi ( Alm ), wartawan-wartawan senior Mamak Sutamat, Bambang Sp dan banyak lagi yang setiap hari Sabtu saya ajak berembug untuk melihat "news bargaining position" setiap minggu. Lantas saya mencoba membuat plot dan simbolisasinya dalam Panji Koming, agar tak terlalu " telanjang". Ada hal lain yang merangsang saya sejak era Orde Baru, yaitu kemungkinan untuk menampilkan ujud kartunal pejabat-pejabat kita seperti kartun Mort Drucker pada komik kartun poltiknya. Selama Orde Baru tokoh Bhre Ariakendor selalu saya korbankan sebagai sosok antagon. Tahum 1998 merupakan salah satu tahun "emas" buat Panji Koming. Wartawan senior Rudy Badil (BD) disertai wartawan Politik Suryopratomo (TOM ) dan Agus Hermawan (USH) mengajak membuat kartun tiap hari selama 1,5 bulan selama Pemilu di Kompas. USH menamainya sebagai KETOPRAKTOON. Saya didorong untuk lebih bebas dan terbuka. Rasanya betul-betul seperti orang gila lepas kendali. Diberi kebebasan untuk berekspresi kartunal. Karena kebebasan saya, wartawan budaya Efix Mulyadi mengatakan "Dwi Koen muntah". Kebebasan itupun perlahan-lahan mulai memengaruhi ujud Panji Koming, lebih leluasa menohok sosok-sosok yang layak " ditohok".
Bahasa analogi (ke zaman Majapahit) yang Anda pakai sebagai strategi komunikasi Panji Koming tergolong mulus atau tetap saja menemui kendala ketika harus dihadirkan di koran setiap minggunya itu?
Secara kultural, siapa sih di negara ini yang tak kenal Majapahit? Jadi secara umum untuk kaum intelektual (golongan pembaca Kompas) masih komunikatif. Yang terpenting kita menghayati "credo" harian Kompas. Mengemban Amanat Hati Nurani Rakyat. Sejauh ini alhamdulillah tak ada pejabat yang tersinggung. Mungkin karena mereka tak pernah baca Panji Koming. (Kecuali beberapa pejabat antara lain Wijoyo Nitisastro dan Yuwono Sudarsono yang terang-terangan menyukai Panji Koming). Zaman Orde Baru sebelum menggunakan komputer, beberapa kali Panji Koming ditolak Redaksi karena terlalu berani.. Setelah menggunakan jasa internet, kalau ada yang dianggap "kritis" perbaikan segera dengan mudah diatasi. Dan itu tak terlalu sering terjadi karena kemudahan berkomunikasi.
Hal mendasar yang ingin Anda capai sebagai kartunis/komikus/kritikus situasi lewat Panji Koming itu tentu menarik disampaikan ke pembaca, termasuk sampai pada titik mana Anda dapat mencapai "kepuasan" lahir batin dalam berkarya?
Bisa disebut kepuasan kalau pembaca merasa terwakili nuraninya. Panji Koming sudah menjadi milik pembaca. Banyak pembaca yang mencintai Pailul, Ni Woro Ciblon, dan lain-lainnya. Bahkan Arthur N Nalan Ketua ISI Bandung menyukai Bujel dan Trinil kecil.
Anda berpendapat bahwa pameran kartun via koran sama saja artinya dengan pameran kartun di gedung atau ruang-ruang pameran; apakah itu berarti bila dikaitkan dengan istilah orang broadcast Anda menganggap bahwa on (the) air dan off (the) air itu sama saja?
Jangan lupa pameran di gedung kan dilihat pengunjung; dalam ilmu komunikasi decodernya jelas. Encoder senang kalau dilihat orang (Decoder). Susah kalau disamakan dengan ujud broadcast yang termasuk "cold medium".
Sawungkampret, sebuah karya komik Anda (yang benar-benar komikal) dan merupakan parodi yang berbasis dari situasi atau zaman penjajahan Belanda di Indonesia (khususnya Batavia), tentu menantang dalam aspek perburuan data dan literatur; bagaimana awal mulanya sehingga Anda mempunyai pemikiran ke arah sana?
Jawabannya rada panjang juga. Sawungkampret sesungguhnya karya yang jauh lebih lama dari Panji Koming. Lahir tahun 1969 pada saat saya kerja di Televisi Exprimentil Surabaya. Kesenangan membuat komik sejak kecil, merangsang saya melakukannya untuk mengisi waktu. Terpengaruh oleh kisah " Mahesa Jenar" ciptaan SH Mintardja. Waktu masih kecil di Bandung saya melihat Sandiwara Sunda yang sangat lucu; salah satu tokohnya bernama Jaka Aspirin. Terciptalah seorang tokoh jenaka bernama Mahisa Aspirin.. Cerita silat jenaka karena saya tak bisa berkelahi. la bepartner dengan seorang teman bernama Panji Kemis yang lebih suka dipanggil Ringo.. Yan Mintaraga teman satu tingkat di ASRI, Jogyakarta, menyemangati saya untuk membuatnya.. Saat itu ( tahun 1969). Yan sudah jadi selebriti komik. Sayang saya masih jadi orang TV. Dan di waktu senggang saya lebih banyak membuat relief dan patung karena lebih menghasilkan uang untuk asap dapur. Waktu saya bekerja di Gramedia Film tahun 1977, saya ajukan Mahisa Aspirin yang kemudian saya ubah menjadi Mahisa Pailul ke Majalah HAI; tapi ditolak redaksi karena waktu itu sudah ada Mahisa Rani ciptaan teman saya Teguh Santosa. Agak heran juga atas penolakan ini, Redaktur Pelaksana tidak berani menolak langsung tetapi melalui anggota redaksi. Tak apalah, katanya saya diminta untuk membuat komik cowboy saja. Sulit harus mengubah pakem, jadi tidak saya teruskan. Tahun 1988 Sudarmadji Damais, seorang budayawan DKI mengusulkan untuk membuat komik humor tentang Jan Pieterszoon Coen. Gayung pun bersambut, jadilah tokoh saya ini hidup di Batavia zaman VOC. Tahun 1990, Majalah HumOr diluncurkan, saya diminta sebagai Redaktur Khusus.. Dengan dibantu Arwah Setiawan (Alm) jadilah tokoh saya yang kini bemama Sawungkampret mulai tampil bersama Na'ip (dulunya Panji Kemis). Seperti juga Panji Koming, saya selalu minta bantuan teman-teman di HumOr untuk memperkaya gag atau apapun yang menarik untuk dibaca. Ada Yudhistira ANM Massardi, Amarzan Lubis, Ridwan Idris dan bahkan anda sendiri, ingat kan? Bahkan Monsieur Marcel Bonneff, Doktor Perancis untuk komik Indonesia pun membantu saya untuk perjalanan Marietje dan Ni Woro Sendang ke Perancis. Dalam usia sepuh beliau pernah berpikir untuk menerjemahkan Sawungkampret ke bahasa Perancis.
Kisah percintaan pemuda sodrun Sawungkampret dan gadis Belanda Marietje van Bloemkoel yang romantis tapi juga kocluk itu sering orang mengait-kaitkannya dengan pemuda penjuang Untung Suropati dan gadis Belanda yang jadi kekasihnya atau novel "Bende Mataram" karya Herman Pratikto yang menampilkan tokoh Sangaji cowok pribumi yang berpacaran dengan Suzanna, gadis Belanda (maaf bila akurasinya kurang memadai; ini hanya hapalan di luar kepala), tentu Anda punya konsep yang berbeda bukan?
Tidak persis begitu. Pada kisah awalnya sejak diciptakan tak ada gambaran perempuan pada Kisah Mahisa Aspirin maupun Sawungkampret; Marietje lahir karena usulan kenceng dari istri saya Cik Dewasih yang juga mengusulkan Ni Woro Ciblon di Panji Koming. Jeng Cik juga mepertajam plot dan romantisme dengan kehadiran Ni Woro Sendang, yang tak lain adik kandung Sawungkampret.
Sulit sekali pada awalnya, belajar dari teman-teman jugalah yang kemudian memperlancar romantisme sodrunnya.
Kesibukan Anda belakangan ini konon banyak monda-mandir antara Indonesia-China dan sebaliknya; tak keberatan Anda mengisahkannya untuk tambahan wawasan para. pembaca?
Terus terang pertanyaan ini bikin saya mengkirig. Saya sudah diangkat sebagai Advisor dari penerbitan International Journal Of Comic Art, oleh Prof John A Lent, Editor in Chief di Amerika. Sudah pula diangkat sebagai anggota Komisi APAACA (The Asian-Pacific Animation and Comic) berkedudukan di kota GuiYang, China, Yang setiap tahun mengadakan festival komik dan animasi AYACC (Asian Youth Animation & Comic Contest). Kenapa saya mengkirig? Karena Perjalanan ke Guiyang sungguh melelahkan. Jadi stamina saya harus dinaikkan tiap tahun agar tidak nyonyor. Jadi pesan saya ikuti pula kontes di Guiyang ini, terutama yang gemar membuat komik dan animasi. Beberapa kartunis Indonesia sudah mulai mengikuti. Bahan-bahan untuk kartunis muda kelak bisa didapat di website saya "Dwi Koen's Schetspad". Urusan dengan luar negeri banyak yang bisa kita perbincangkan, tapi saya percaya kita semua bisa bergerak lebih luas lagi. Di dalam negeri banyak yang perlu kita kembangkan dan perbaiki.
Mungkin Anda ada uneg-uneg tentang kartun atau kartunis atau pemerintah atau tetangga atau kawan atau orang di sekitar Anda dan ingin memberi komentar atau guyonan atau membuat karikaturnya, silakan memanfaatkan ruang yang tersedia ini .... domo arigato!
Uneg-uneg: Saya ingat dalam sebuah pertemuan dengan Dawam Rahardjo ahli ekonomi dan sosial bangsa ini pada tahun 1995, waktu masih Orde Baru. Dia bertanya kepada saya kenapa negara kita kacau. Saya meggeleng tidak tabu. Akhirnya dia jawab sendiri. Menurutnya lulusan universitas yang baik di Indonesia, memilih bekerja di swasta (termasuk di perusahaan Luar Negeri). Yang bodoh (antara lain yang nyolong skripsi, nyontek dll cara ilegal) jadi Pegawai Negeri. Jadi selama ini (bahkan sampai Orde Reformasi ) kita dipimpin orang bodoh. Saya sering sedih memikirkan teman-teman (tidak semua) pejabat yang bekerja dengan saya. Sering saya kesrimpet birokrasi dan ublekutekusekumek yang membuat pegel. Kartunis Indonesia, betapapun sekolahnya nggak tinggi amat, punyailah 6 UNSUR PENTING dalam kita belajar dan bekerja. Lakukan senantiasa OBSERVASI, lakukan senantiasa ORIENTASI, berusahalah senantiasa MENINGKATKAN MUTU KARMA, selalu berusaha menyusun MANAJEMEN, Manajemen Waktu dan Mood Kerja. Jangan kalah sama kartunis Jepang atau negara barat; selalu berusaha nelakukan FERIFIKASI dan yang keenam, selalu KONSISTEN. Mau nambah, silakan saja. Nggak pa-pa, kok. Sulit, memang. Jangan lupa beberapa di antara kita terpaksa melakukan ke 6 Unsur di atas sebaik-baiknya. Tanya saja sama Kelik Siswoyo yang mesti berkarya di POS KOTA, GM Sudarta, Pramono, DR Priyanto S. Teman-teman di BOGBOG, di KOKKANG dan banyak lagi, terima kasih.
Haik, domo arigato! (Darminto M. Sudarmo)
Friday, February 27, 2009
Membedah Anatomi Kerja Kartunis
Catatan:
Menikmati kartun yang sudah jadi memang mengasyikkan; tetapi tahukah kita bagaimana ketika sang kartunis menghadapi kertas kosong dan otaknya lagi blank, tidak ada ide sama sekali? Apa yang harus dilakukannya? Dari diskusi di bawah ini mungkin akan Anda dapatkan jawabannya. Di balik setiap kartun bagus, selalu ada literature yang mem-back up kinerja sang kartunisnya.
SEMINGGU sebelum acara diskusi kartunis (Lektur Terbuka: Kartunis dan Tugasnya oleh GM Sudarta dan Lat) di Taman Ismail Marzuki, 12 Juli 2003, saya didaulat kartunis Pramono (Ketua Umum Pakarti -- Persatuan Kartunis Indonesia, waktu itu) agar bersedia memandu acara diskusi tersebut, disponsori oleh Pusat Kebudayaan Jepang, Jakarta. Bagaimana mungkin saya dapat menolak “perintah” beliau, salah seorang tokoh kartunis senior negeri ini, apalagi bila itu ada kaitannya dengan sebuah momentum yang menarik; yakni bertemunya dua figur maestro kartunis Indonesia dan Malaysia , GM Sudarta dan Lat, yang seingat saya baru pertama kali dipertemukan dalam sebuah forum di Indonesia.
Gairah budaya pun semakin tumbuh, apalagi bila mengingat Indonesia sedang dilanda berbagai arus kepentingan yang membuat pening kepala, geli hati sekaligus jengkel karena UU Pilpres, Susduk, Hak DPR untuk menyandera, dan lain-lain yang begitu naïf, ternyata bisa terjadi dan memang benar-benar terjadi.
Saya pun bersiap-siap mengumpulkan joke-joke “maut” agar dalam pelaksanaan diskusi dapat diarahkan ke suasana yang lebih “pedas” tapi segar dan eliminatif. Harapan saya, kendati hanya berlangsung selama dua jam saja, pertemuan dua jagoan itu bisa menjadi katarsis bagi semua yang hadir. Sejenak melupakan proses sejarah yang gerah, yang terjadi di negeri ini. Tambahan lagi, diskusi yang bertajuk: Kartunis dan Tugasnya bukankah tergolong tema ringan dan pasti akan penuh dengan canda dan derai tawa. Bayangan lucu yang terproyeksi dalam kepala saya, pasti para kartunis akan menjawab sambil berseloroh, “Tugas kartunis apa lagi? Tentu saja mencari nafkah buat keluarganya”. Hadirin yang kaget akan merespon jawaban itu dengan gelak tawa dan tepuk tangan; betapa mewahnya bila suasana seperti itu bisa terjadi.
Logika seperti ini pula yang pernah dipakai Arswendo Atmowiloto, ketika menangkis pertanyaan secara ndugal, mengapa gerakan sparatisme di Indonesia marak, bukan saja di Aceh, Maluku tapi juga di Papua? Jawaban Arswendo, PDI-P-lah yang harus bertanggung jawab, jelas-jelas Indonesia sudah lama merdeka, mengapa partai itu selalu meneriakkan yel-yel, “Merdekaaaa…Merdekaaaa!!!”
Arswendo memang Arswendo. Untuk mengamankan pernyataannya yang rada ndugal itu, dia berlindung di balik predikatnya sebagai seorang guyonis. Guyonis? Istilah gendeng apa pula ini? Tapi secara gramatika, tidak salah. Guyon itu kata benda dan akhiran is, tak mau kalah dengan humoris, kartunis, lengkap kan edan-edanannya?
Maka, seperti yang sudah dijadwalkan, diskusi tentang kartun dan kartunis itu pun terjadilah…!
***
GM Sudarta, seperti yang sudah diduga, tampil piawai sebagai story teller yang memikat, runtut, terutama ketika menyampaikan “makalah”-nya berupa tumpukan gambar karikatur mahasiswa-mahasiswa Bandung pada tahun-tahun sekitar 1965-an, sesekali muncul leluconnya yang inspiratif, dan tetap dikemas dalam bingkai elegan. Lat yang tampaknya pendiam dan angker, setelah berbual-bual (berbicara) secara lugas, apa adanya, barulah muncul sepenggal demi sepenggal leluconnya. Hampir semua yang dia sampaikan berdasar pengalaman nyata. Namun disusun secara bersilang tumpang sehingga setiap terjadi persinggungan logika, selalu muncul sesuatu yang mengagetkan dan menimbulkan tawa.
Persoalannya kemudian, diskusi tumbuh tidak sekadar mengobral tawa dan katarsis. Joke-joke maut yang sudah saya siapkan pun akhirnya tak relevan dimunculkan karena suasana telah berkembang sebagaimana yang dikehendaki takdir. Inti dari “makalah” GM Sudarta yang menggambarkan keberanian para kartunis (mahasiswa) saat itu yang demikian telak dan langsung membidik sasaran atau obyek, yakni Bung Karno, sebagai symbol rezim Orde Lama dan mendukung secara eforia kelahiran Orde Baru, pada akhirnya membuat para kartunis itu harus terkecoh, karena rezim yang baru pun, secara pelan tapi pasti mulai memasung kebebasan yang semula dijanjikan semanis madu itu. Pesta demokrasi pun usai sejak awal tahun 1980-an hingga Rezim Soeharto tumbang, 1998.
Fakta itu mengingatkan saya pada buku “Catatan Seorang Demonstran” karya Soe Hok Gie. Salah satu pernyataan Soe Hok Gie, yang juga hasil mengutip dari intelektual asing, (maaf, saya tak ingat namanya), seorang cendekiawan dilahirkan untuk memusuhi rezim yang korup; setelah rezim yang korup tumbang, maka akan muncul rezim baru. Rezim baru tak lama kemudian juga korup, sang cendekiawan pun memusuhi rezim yang baru. Demikian seterusnya. Maka takdir seorang cendekiawan akan selalu sendirian dan selalu sendirian dalam rezim yang bagaimana pun.
Sementara itu Lat banyak bercerita tentang dirinya yang tak berkantor di mana-mana, tetapi bekerja di rumah sebagai kartunis untuk harian New Straits Times, Malaysia. Seminggu tiga kali. Sebulan rata-rata 12 karikatur. Gambar-gambar itu juga dikirim via email, sehingga Lat tak perlu hadir di kantor koran tersebut. Setelah berpuluh-puluh tahun malang-melintang di Kuala Lumpur, Lat merasa perlu balik ke kampung, Ipoh, untuk berbagai alasan. Di antaranya adalah memberi ruang bagi kemunculan kartunis-kartunis muda dan yang jelas suasana di kampung lebih nyaman: udara jauh lebih sehat dan sosialisasi dengan warga lebih hangat; mungkin spirit kemanusiaan dan ketulusan lebih terasa daripada di kota.
Sesuatu yang menggembirakan, di luar dari proyeksi nakal saya, diskusi dua jam itu tak sengaja dapat menghadirkan simpul-simpul penting mengenai sosok manusia yang bernama kartunis. Khususnya yang berkaitan dengan sistematika berpikir, proses kreatif dalam berkarya, metodologi kerja dan motivasi pilihan profesi. Dari simpul-simpul tersebut bila disederhanakan, dalam diri seorang kartunis (tak peduli apakah ia seorang gag cartoonist, social cartoonist maupun political cartoonist) terdapat tiga elemen kompetensi yang satu dengan lainnya saling terkait.
Elemen pertama, kompetensi di bidang teknis/artistik; seorang kartunis dengan sendirinya memiliki kemampuan teknis menggambar yang memadai. Dengan kata lain bila ia menggambar seekor kuda, maka siapa pun yang melihat gambar itu akan mengatakan itu gambar kuda. Bukan kerbau, sapi atau jerapah. Bila seorang kartunis bermaksud menggambar kuda, tetapi yang tampak oleh orang banyak bukan gambar kuda, maka si kartunis dianggap gagal berkomunikasi. Itu sama dengan dia belum memiliki kompetensi di bidang teknis/artistik. Dan komunikasi kepada publik akan semakin kacau bila ternyata dari gambar yang menyimpang itu ketambahan lagi dengan kata-kata, bayangkan, betapa carut marutnya kemungkinan komunikasi yang bisa terjadi kemudian.
Elemen kedua, kompetensi di bidang pengamatan (jurnalis, kolomnis, penulis, cerdik cendekia, ilmuwan dan sebagainya); seorang kartunis dengan sendirinya adalah seorang yang memiliki kemampuan dalam mengamati berbagai masalah secara cermat dan akurat. Khususnya menyangkut detil dan substansi. Setelah diendapkan beberapa saat, kemudian ia membuat analisa-analisa. Membuat pertanyaan dan asumsi. Bahan berupa analisa ini untuk sementara dibiarkan menggantung menunggu proses yang ketiga.
Elemen ketiga, kompetensi di bidang lelucon (humoris/kreatif); seorang kartunis dengan sendirinya adalah seseorang yang memiliki sense of humor yang baik dan mampu menghasilkan lelucon yang baik pula; ia mampu melihat persoalan dari sudut pandang yang beda daripada masyarakat umum. Beda dalam konteks ini tidak sekadar lain, namun beda yang memiliki sejumlah alasan yang dapat dibenarkan. Seperti karikatur karya GM Sudarta (Lihat Kompas, 12 Juli – 2003), seorang narapidana berpakaian loreng duduk di singgasana nomor satu negeri ini dengan senyum lugu dan wajah tak berdosa. Proyeksi karikatur yang nyeleneh dan mengagetkan itu, tidak sekadar beda tapi berlandaskan alasan-alasan yang reasonable. Bila kurang jelas, buka UU Pilpres.
***
DI sisi lain, banyak rekan wartawan yang dengan penasaran mempertanyakan tentang sosok yang bernama kartunis itu. Bila dilihat sekilas performance mereka tenang, kadang justru cenderung pendiam, bahkan ada yang sangat pemalu, tidak suka sosialisasi dengan orang-orang yang belum dikenalnya secara mendalam. Tetapi ketika tiba giliran mereka menggambar kartun, di situlah muncul ide-idenya yang edan dan ugal-ugalan. Ada virus apa sebenarnya di otak kartunis itu? Pertanyaan bernada seloroh ini mudah-mudahan agak terjawab oleh asumsi tiga elemen di atas.
Bila dipikir-pikir, demikian seorang teman kartunis ngudarasa, mungkin masih lebih enak menjadi pelukis. Tugasnya adalah melukis. Boleh tidak peduli pada masalah-masalah terkini yang lagi hangat atau sudah basi. Boleh melukis yang obyeknya tidak harus lucu; sebaliknya, bebas mengungkapkan hal yang membuat orang bersedih hati. Begitu juga dengan jurnalis, kolomnis, penulis, cerdik cendekia, ilmuwan dan sebagainya. Boleh bekerja dalam jalur job-nya tanpa perlu harus pintar menggambar atau melucu. Tak terkecuali pelawak atau humoris, tidak perlu harus pintar menggambar. Bukankah itu berarti, bahwa secara esensial, kerja sebagai kartunis adalah kerja yang tidak ringan. Ia harus menggabungkan sedikitnya tiga kompetensi sekaligus, sebagaimana dijelaskan di atas.
Mengingat keadaan ini, saya sering bertanya-tanya dalam hati, inikah yang menjadi penyebab mengapa jumlah kartunis negeri ini dari waktu ke waktu terus menyurut? Apalagi bila dibandingkan dengan jumlah pelukis, yang angkanya dari waktu ke waktu justru makin bertambah. Catatan sementara yang ada pada saya, para kartunis yang tidak pernah lagi mengartun di antaranya adalah: Harmoko, Harry Pede, Oet, Tris Sakeh, SNS, Meru Sudarta, Julius Pour, T. Nurjito, Gun R, Mr. Zaggy, Jaya Suprana, Ramli Badrudin, Basnendar, Anwar Rosyid, Odios (saya sendiri), dan masih banyak rekan lain di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang,.Solo, Surabaya dan Bali yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Sementara itu kartunis-kartunis Indonesia yang masih setia berkarya, mungkin cukup banyak, namun relatif sedikit bila dibandingkan jumlah pelukis/perupa yang tumbuh di negeri ini. Trio jagoan Indonesia yang sudah tidak asing lagi dan belum tergoyahkan eksistensinya adalah: GM Sudarta, Dwi Koendoro dan Pramono. Ada satu kartunis kawakan, yang lebih senior dari mereka bertiga, kendati tidak spesifik memiliki media (terutama di zaman Orde Baru) namun tetap berkarya, yaitu Sibarani. Almarhum Arwah Setiawan menempatkan Sibarani sebagai salah satu sosok karikaturis paling fenomenal pada zamannya.
Dari angkatan yang lebih muda lagi, memang terdapat nama-nama seperti: Non-O, Gesi Goran, Gatote, Rahmat Riyadi, T. Riyadi, tetapi nama-nama seperti Priyanto S dan T. Soetanto dari Bandung yang karyanya banyak merajalela di media Jakarta, siapa bisa menafikan kehadiran mereka? Di kawasan lain, kartunis Jitet Koestana yang sering menang lomba di luar negeri, Jango yang punya komunitas penerbitan kartun (humor) di Bali, Tony Tantra yang terus berkarya dalam kemisteriusannya, M. Najib, yang lugu dan lucu seperti “Inul”, Ifoed yang rajin mengembangkan kartun ke advertensi, adalah fenomena-fenomena baru yang tak dapat dianggap enteng kiprahnya. Dalam perkembangannya, kartun ternyata tidak hanya menjadi warga dari seni grafis. Ia kini telah berkembang ke seni hias kaos, interior, instalasi, animasi dan bukan tak mungkin bermutasi ke seni murni.
***
PADA akhirnya, baik GM Sudarta maupun Lat yang siang itu 12 Juli 2003 menjadi “ayah” bagi Oom Pasikom dan Si Mamat (Kampung Boy) harus rela buka kartu dan berendah hati, bahwa hal-hal yang berkaitan dengan sistematika berpikir, proses kreatif dalam berkarya, metodologi kerja dan motivasi pilihan profesi, tetap perlu mengkaitkannya dengan tatanan social dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Wajarlah bila dalam berkarya mereka harus mengkalkulasi itu semua supaya karya dan pesannya dapat efektif sampai ke sasaran yang dituju. Artinya, bahwa kartun yang berhasil itu indikasinya adalah dapat membuat senang si pembuat, yang membaca/menonton dan pihak yang dijadikan obyek dalam karikatur/kartun. Dengan kata lain, untuk sampai pada situasi itu, mereka perlu menempatkan strategi self censorship sedini mungkin. Setidaknya sikap itu yang diperlihatkan GM Sudarta dan Lat tanpa tedheng aling-aling. Tanpa perlu merasa kurang heroik. Toh bila seorang kartunis berhasil menyampaikan early warning, pesan atau peringatan awal atas suatu masalah atau persoalan, sebenarnya, itu sudah lebih dari cukup. Bahkan, GM Sudarta mengutip salah seorang “suhu” institusi pendidikan tinggi kartun di Jepang yang berkata, bila sebuah kartun sudah mampu berbisik kepada pembacanya, itu sesungguhnya, sudah tergolong berhasil.
Begitulah. Pertanyaannya lagi, wajarkah bila kita menuntut peran kartunis terlalu besar dan berlebihan, misalnya berharap mereka menjadi ujung tombak demokrasi, agen perubahan atau revolusi, lalu apa peran anggota DPR yang terhormat dan bergaji besar itu?
Darminto M. Sudarmo, penulis dan pengamat humor.














