SECANGGIH APAPUN PERALATAN DAN TEKNOLOGI TETAP SEBUAH ALAT

KOMPETISI TETAP HARUS TERJADI

KREATIVITAS MANUSIA YANG MEMBEDAKANNYA

ADA YANG MENANG DAN KALAH ITU BIASA

MAKNA HIDUP HADIR BILA KITA BERAKTIVITAS

Saturday, November 19, 2011

Cartoon Exhibition in Australia

Indian Cartoon Exhibition

Jitet Koestana Most International Award Winning

Tuesday, November 8, 2011

Pramono R Pramoedjo, Belajar Menjadi Orang Desa


Begitu banyak orang menulis tentang Pramono. Baik ia sebagai karikaturis (political cartoonist), pelukis wajah “lucu” (caricaturist), maupun sebagai individu. Koran, majalah, buku, website, TV, telah berkali-kali menyiarkannya. Ada yang mengulas secara selintas pandang, namun tak kurang pula yang mengupas secara runtut, lengkap dan mendalam.
Agar tidak bingung dengan sebutan apakah dia seorang political cartoonist  (di Indonesia telah salah kaprah disebut sebagai karikaturis) atau caricaturist  (di dalam konteks sosio-budaya aslinya diartikan sebagai pelukis atau penggambar wajah lucu atau plethat-plethot) dan sebagainya; selanjutnya, kita sebut saja Pramono sebagai kartunis atau pekartun. Istilah ini lebih fleksibel untuk sosok Pramono yang selain andal sebagai kreator kartun opini dan kartun editorial, penggambar wajah lucu, juga sebagai ilustrator bergaya kartunal.
Dari seluruh perjalanan kreatif Pramono (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 5 Desember 1942; Bergabung dengan Harian Sinar Harapan tahun 1967), ada benang merah yang konsisten dan menonjol dari kredo kartunis ini, kesantunan dan kehalusan kritiknya. Orang Jawa menyebut pilihan humornya itu bergaya Guyon Parikena. Nakal dan mencubit memang, namun tetap dalam koridor tata nilai budaya yang melekat secara built in dalam dirinya, yaitu budaya Jawa. Tidak meledak-ledak, tidak insinuatif dan provokatif, tidak juga asal hantam kromo sehingga terjebak dalam justifikasi yang membuat sebuah karya kartun larut menjadi poster dan kehilangan kontemplasinya. Karena itulah, pendekatan paling sering dilakukan Pramono dalam menyikapi berbagai fenomena yang menonjol dalam masyakarat maupun negara senantiasa bermain dalam lambang dan simbol. Dia memperlakukan simbol layaknya seorang penyair meremas dan mengeksplorasi kata. Menyelam dalam kedalaman makna lalu mengantarkan dan menyajikannya lagi dalam diskursus yang baru. Itulah kenakalan dan keusilannya, sekaligus ajakan kepada pembaca/penikmat karyanya untuk berani merenung dan berpikir!
Pilihan Pramono bukannya tak menuai risiko dan konsekuensi. Bagi pembaca atau penikmat yang sangat awam dengan lambang dan simbol, bisa saja mereka keponthal-ponthal (kerepotan) memahami makna dari karya-karyanya; meskipun dalam banyak kasus, kita melihat Pramono cukup arif mempertimbangkan risiko-risiko itu dengan memilih lambang atau simbol yang notabene telah popular atau dipahami oleh pembaca heterogen.
Dua arus besar yang menonjol sebagai pilihan seorang kartunis dalam menyajikan karyanya dapat ditandai dalam versi Eropa (Barat) dan Asia (Timur). Versi umum karya kartun ala Eropa cenderung berupaya menyembunyikan serapat-rapatnya kunci titik ledak (surprised ending) sehingga pembaca (yang notabene educated people) merasa tertantang dan dilibatkan dalam proses penemuan gagasan/kelucuan yang ditawarkan si kreator. Versi Asia, justru sebaliknya. Masyarakat Asia umumnya kurang menyukai karya-karya kartun yang sulit dimengerti. Apakah ini mencerminkan indikasi kemalasan atau ketakpedulian atau belum meratanya sikap keterpelajaran mereka, tentu perlu adanya penelitian untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Sehingga tidak aneh bila di beberapa negara di Asia (Indonesia?), kita sering menyaksikan gambar kartun opini yang si kartunisnya perlu memberi keterangan: misal gambar buah apel, rumah sakit, penjara dan sebagainya perlu diberi tulisan yang menjelaskan gambar-gambar tersebut. Tak terkecuali bila itu menyangkut gambar-gambar tokoh tertentu.
Di dalam kehidupan sehari-hari orang mengenal karya kartun dari animasi (untuk anak-anak), kartun opini (political/editorial cartoon), kartun lelucon (gag cartoon), ilustrasi kartunal (info grafis, buku komik, dll), kartun strip, gambar wajah lucu, dan aneka macam kartun hias. Berbeda dari semua karya kartun yang ada, kartun opini memerlukan persyaratan khusus bagi pembaca  untuk dapat menikmatinya secara total dan paripurna; yaitu pembaca atau penikmat harus memiliki referensi yang memadai. Up to date! Mengapa demikian? Karena kartun opini merupakan respon atau tanggapan kartunis terhadap peristiwa-peristiwa yang sedang menonjol (in) di masyarakat. Bila pembaca ketinggalan isyu-isyu aktual (hangat) yang muncul silih berganti, besar kemungkinan akan terjadi gagal komunikasi antara kartun opini dan penikmatnya. Pada akhirnya, untuk dapat menjadi penikmat atau pembaca kartun opini yang berhasil, tak ada jalan lain kecuali pembaca perlu rajin mengikuti isyu-isyu aktual yang muncul di masyarakat.
Ada pertanyaan, mengapa anak-anak dapat tertawa untuk hal-hal yang orang dewasa sendiri menganggapnya tidak lucu? Berikut penjelasan Dr. Madan Kataria, dokter/psikiater asal India penulis buku Laugh For No Reason, “Anak-anak bisa tertawa tanpa sebab karena otaknya belum mengerti tentang logika, tapi orang dewasa tertawa jika menurut logikanya ada yang lucu. Jadi jika tidak ada logikanya, ia tidak tertawa.”
Kembali ke kartunis Pramono. Bertemu dengan kartunis yang kalem dan banyak senyum ini (15-Juni-2011) di Salatiga, Jawa Tengah, makin terlihat titik pijakan filosofinya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ia makin sumeleh (mensyukuri apa yang ada) dan bersahaja. Dari keadaan itulah makin terpancar atmosfer kependekarannya. Bahkan, dari magnet dan karisma pribadinya yang khas itu, tanpa sengaja ia merupakan inspirator bagi lingkungan dan beberapa komunitas anak muda, bukan saja para pecinta kartun dan humor, tetapi juga anak-anak muda pecinta lingkungan hidup.
Pramono bukan saja menggetarkan sebagai kartunis, ia juga seorang bapak, guru, dan teman ngobrol yang sangat mengasyikkan.
Suatu hari, ketika mengantar jalan-jalan ke pasar tradisional seorang teman yang datang dari Jakarta, tiba-tiba dari kerumunan pengunjung pasar ada seorang nenek yang menyapa Pramono dari kejauhan. Si kawan Jakarta kaget. “Ternyata di pasar pun Anda populer, Mas Pram!”
Pramono hanya ketawa, lalu nyeletuk, “Saya memang sedang belajar menjadi orang desa!”

Darminto M Sudarmo
Penikmat/pengamat humor. Tulisan ini merupakan
pengantar untuk katalog pameran