SECANGGIH APAPUN PERALATAN DAN TEKNOLOGI TETAP SEBUAH ALAT

KOMPETISI TETAP HARUS TERJADI

KREATIVITAS MANUSIA YANG MEMBEDAKANNYA

ADA YANG MENANG DAN KALAH ITU BIASA

MAKNA HIDUP HADIR BILA KITA BERAKTIVITAS

Showing posts with label Kokkang 26 Tahun. Show all posts
Showing posts with label Kokkang 26 Tahun. Show all posts

Monday, December 1, 2008

KOKKANG 26 Tahun, Tetap Mengartun, Walaupun Obama Menang



APA relevansinya kegiatan mengartun anak-anak Kokkang dengan kemenangan Barack H. Obama? Sangat relevan! Obama menggambarkan kegigihan kandidat presiden Amerika yang sejak sekian tahun berjuang keras, praktis dari kondisi nol kilometer hingga mencapai sebuah kondisi yang sangat layak untuk memasuki kompetisi pada tingkat babak final dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Sebagai Presiden Amerika Serikat yang paling gress.
Lha, kelompok Kokkang? Walaupun ikut gembira menyaksikan kemenangan dan keberhasilan Obama, kelompok ini tidak mau ikut-ikutan larut dalam eforia berkepanjangan lalu lupa mengutamakan tugas utamanya: mengartun! Ya, menggambar kartun. Forever!
Karena pilihan dan fitrahnya memang sebagai kartunis. Meskipun di Irak masih banyak gejolak, di Afganistan ada ontran-ontran, di Pakistan banyak ledakan, di India terjadi huru-hara, itu semua tidak akan membuat semangat anak-anak Kokkang surut lalu jadi bingung dan tidak dapat melakukan apa-apa, tidak. Anak-anak atau para anggota Kokkang tetap tidak akan pernah lupa dari panggilan jiwanya: menggambar kartun!

Talkshow dan Bursa Kartun Kokkang
Dari tadi bicara soal Kokkang melulu, apa sih sebenarnya “makhluk” yang bernama Kokkang itu? Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu) yang didirikan sekitar tahun 1982, kali ini tidak hanya memamerkan karya-karya mereka berupa kartun, tetapi juga dalam bentuk yang lebih bervariasi. M. Syaifudin atau yang lebih dikenal sebagai Ifoed, salah seorang anggota KOKKANG, selepas bekerja dari Majalah HumOr lalu membentuk sebuah unit usaha yang berbasiskan kartun. Usahanya yang bernaung di bawah Communicartoon Studio kini bahkan tidak hanya berkiprah di bidang desain (periklanan/percetakan), ilustrasi buku dan benda-benda merchandise lain, tetapi juga telah merambah ke pembuatan film kartun animasi.
Sebelum Ifoed ada nama-nama seperti Didik Trisnadi yang bergerak di bidang perfilman; khususnya membuat film dokumenter dan iklan. Ada Joko Susilo yang membuat desain dan mencetak T-shirt. Dan saat ini, salah seorang yang paling bersemangat dalam pembuatan desain dan cetak T-shirt adalah Wijanarko.
Salah seorang yang sering menjadi pemenang lomba kartun yang sekaligus juga ilustrator banyak buku adalah Muchid Rahmat. Jadi tidak mustahil bila anggota generasi baru (1990-an hingga 2008) terdapat nama-nama yang karyanya tergolong kuat dan eksis seperti M. Najib, M. Nasir, Wawan Bastian, Muslih, Zaenal, Nazarudin, Asbahar, Tyud, M. Qomarudin, Wahyu Kokkang, Aziz dan banyak lagi lainnya, sangat punya andil besar dalam penciptaan atmosfir dan inspirasi bagi generasi sesudahnya.
Kelompok ini tidak hanya melahirkan kartunis kuat, tetapi juga ada yang jurnalis maupun birokrat. Seperti Odios, pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah HumOr; Hertanto Soebijoto, redaktur harian Warta Kota, Nurochim, bekerja di Majalah MOP, dan Prie GS sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid Cempaka plus seorang motivator berspirit religiusitas. Sementara Itos, sebagai birokrat (terakhir Kepala Seksi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) Kab. Kendal; dan Totok Haryanto sebagai aparat desa serta aktif di komunitas semacam LSM Pemerintah. Uniknya lagi, ada juga dari anggota kelompok ini yang kemudian menemukan kenyamanan setelah menyeberang sebagai pelukis; seperti Asep Leoka, Syaiful Ashari dan beberapa yang lainnya.
Pada kesempatan yang khusus tersebut, diadakanlah “Talkshow dan Bursa Kartun Kokkang” yang diwakili oleh Odios, Ifoed, Wahyu Kokkang, Muchid Rahmat, dan M. Nazarudin; sedangkan Tosso kebagian sebagai Juru Potret. Selain dibawas soal latar belakang terbentuknya Kokkang, juga ditampilkan film dokumenter Kokkang, testimoni anggota Kokkang dan film animasi garapan tim yang dikelola Ifoed.


Latar Belakang dan Silsilah Lahirnya KOKKANG
MENURUT Odios, sampai dengan tahun 1979, di Kaliwungu atau bahkan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, hanya ada satu kartunis; yaitu dirinya. Sekian lama luntang-lantung mengartun sendirian, agak membuatnya sedikit bersalah; karena honor-honor yang masuk lewat kantor pos Kaliwungu hanya dia sendiri yang menikmati. Maka ketika pada tahun 1979-an, bulannya lupa, dia ketemu Itos di kampus IKIP Negeri Semarang dan terjadilah dialog yang intinya Itos pingin banget belajar dan bisa ngartun.
Liburan kuliah, Odios yang ada pekerjaan membuat desain motif batik “Joeni Batik” di Bogor menawari Itos ikut; karena di sana ada banyak waktu luang yang bisa digunakan untuk berlatih menggambar kartun. Itos setuju. Sekitar 10 hari, Itos langsung berubah menjadi manusia baru! Dia langsung menjadi kartunis yang cerdas. Cerdas artinya langsung menemukan corak atau style tokoh yang mewakili dirinya dan ide-ide yang dibuatnya pun tergolong unik dan baru. Tidak tanggung-tanggung, dalam masa latihan di Bogor itu dia langsung dapat menciptakan kartun yang siap dikirim ke media sekitar 75 gambar.
Itu bagian yang sangat penting dari organisasi budaya yang bernama KOKKANG. Karena meskipun sempat beberapa lama mengalami pasang surut dalam berkarya, toh akhirnya wesel honorariun dari media Jakarta datang bertubi-tubi dan membuat Itos nyaris tak percaya, kalau dari corat-coret di kertas seperti itu dihargai cukup layak oleh media.
Maka setelah KOKKANG didirikan (1982) dan kedua kartunis ini mengadakan pameran kartun bersama di Pendapa Kawedanan Kaliwungu, sambutan masyarakat pun sungguh di luar dugaan. Anggota-anggota baru masuk berebutan. Hingga datang tahun 1988, saat yang tak dapat ditolah oleh Odios karena dia harus bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Urusan mengenai kelompok ini akhirnya diserahkan total kepada Itos. Dan di bawah pimpinan Itos yang kadang streng tetapi sesungguhnya baik, ada suasana pasang surut; tetapi akhirnya sejarah mencatat, bahwa KOKKANG toh pada akhirnya dapat survive hingga 26 tahun lebih.
Sungguh ini sebuah anugerah yang luar biasa. Kelompok ini tidak pernah puas sampai di sini; mereka tetap punya cita-cita; baik itu menyangkut visi individu maupun kelompok; cita-citanya adalah dapat hidup layak dari keahliannya. Itu mungkin terasa naif, tapi entah bercanda atau sungguh-sungguh, salah seorang dari mereka ada yang nyeletuk pingin jadi bupati. “Aneh, kan kalau ada bupati dari kartunis?” ujar si pemilik keinginan tersebut.

Kartun Berhenti di Kaliwungu
(SEORANG wartawan budaya, Budi Setiyono, yang tergolong cukup intens dan mendalam mengkaji fenomena yang terjadi di komunitas Kokkang, pernah menulis tentang kelompok tersebut di Majalah Pantau dan situsnya pada kisaran bulan Mei tahun 2001. Ia memberi judul laporannya “Kartun Berhenti di Kaliwungu”. Sebuah judul yang membuat kaget para kartunis Kaliwungu sendiri. Kesan yang muncul seolah-olah di komunitas kartunis lain tak kebagian; karena sudah berhenti di Kaliwungu. Tetapi bagaimanapun itu adalah hak dia setelah menyelami sendiri dan sejenak merasakan hanyut dalam pusaran kreativitas yang ada di kelompok tersebut.
Beberapa catatannya yang masih relevan dapat kita cermati dalam kesempatan ini. Antara lain ia melaporkan).
Saya bergegas masuk ke sisi ruang yang digunakan sebagai pusat aktivitas kartunis Kokkang. Di dalamnya ada dua lemari besar berisi buku, katalog-katalog dan penghargaan-penghargaan kartun berjejer rapi. Ada lemari arsip kecil, dan lemari sedang yang digunakan untuk menaruh komputer. Pesawat telepon, buku telepon, buku honor masuk dan kas Kokkang, serta kertas dan koran yang tertata rapi menghiasi meja bercat coklat. Beberapa lukisan tergantung di dinding.
Saya duduk di kursi sofa. Satu-dua air hujan menerobos masuk, dan jatuh menimpa sebuah baskom plastik yang sengaja diletakkan di dekat meja. Saya melongok ke atas. Ada sebuah ruangan berukuran 2,5 x 2,5 meter yang terbuat dari bambu dan beratap seng. Tapi tak ada tangga menuju ke atas --ternyata ruangan itu tak lagi dipakai sebagai sanggar karena lapuk.
Saya masih menunggu pemilik rumah, sambil berpikir seolah tak percaya bahwa dari rumah sederhana ini lahir banyak kartunis yang mewarnai dunia.
Tak lama, deru sepeda motor terdengar lirih. Pengendaranya turun, bergegas masuk rumah, dan menuju ruang sekretariat. "Maaf berantakan. Saya sedang merehab total rumah ini," kata Budi Santoso, yang akrab dipanggil Itos, pemilik rumah, sambil menyalami.
Ia kemudian masuk kembali, dan tak lama kemudian keluar dengan kaos hitam lengan panjang dan sarung kotak-kotak. Laki-laki inilah yang bersama Darminto Masiyo Sudarmo, atau biasa dipanggil Odios, serta Nurrochim, yang mendirikan Kokkang pada awal 1980-an.”
(Pada bagian lain Buset {Budi Setiyono} menggambarkan laporan penelusuran data dan pandangan matanya).
Siapa bisa menebak nasib. Begitu juga Itos tak menyangka pertemuannya dengan Odios bakal mengubah garis hidupnya. Saat itu, tahun 1979, Itos mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Pendidikan Seni Rupa, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Semarang. Ia berkenalan dengan Odios, yang juga mendaftar di jurusan yang sama. Keduanya berkenalan, dan surprise karena ternyata berasal dari daerah yang sama pula: Kaliwungu. Hanya beda kampung. Itos berasal dari desa Krajankulon, sedangkan Odios dari desa Plantaran.
Pembicaraan pun berlangsung. Saat itu, Odios mengenggam koran mingguan Bahari.
"Apa istimewanya koran itu?" tanya Itos.
"Karena ada kartun saya, Wak Kamal, yang dimuat secara tetap di sini," jawab Odios.
Odios mengenal kartun sejak kelas 2 sekolah menengah pertama. Saat itu ia sudah mengirim kartun ke majalah Stop, tapi ditolak redaksi. Baru ketika kelas 1 sekolah menengah atas kartunnya dimuat majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat. Sedangkan Itos dikenal sebagai dalang cilik.
Itos belum tahu kartun. Karena itu ia menanyakan ini-itu, dan Odios menjelaskannya. Itos mengaku tertarik dan ingin tahu lebih jauh tentang kartun. Odios pun mengundang Itos mampir ke rumahnya. Di rumah, Odios menunjukkan berbagai jenis kartun. Itos makin tertarik, bahkan ingin belajar.”
(Singkat cerita, kisah Buset tak beda dengan penuturan yang telah disinggung pada bab latar belakang berdirinya Kokkang. Nah, bagaimana sejarah berdirinya Kokkang, Buset menggambarkannya demikian).
Tahun 1982, Paguyuban Kartunis Yogyakarta (Pakyo) mengadakan pameran kartun nasional.
“Pameran yang tak dapat mereka ikuti itu membuat mereka iri. "Kami cuma menyantap beritanya dari media massa," kata Odios.
Suatu saat, ketika keduanya hendak ke kantor pos Kaliwungu, tiba-tiba terbersit gagasan untuk membuat perkumpulan sejenis Pakyo. Nurrochim kemudian diajak. Dan lahirlah Komplotan Kartunis Kaliwungu --yang kemudian diganti Kelompok Kartunis Kaliwungu-- 10 April 1982. Markasnya ditetapkan di rumah Itos, yang suka berorganisasi dan senang rumahnya dijadikan markas, di Jalan Boja 106, Kaliwungu.
Menurut Itos, ada sejumlah alasan mengapa Kokkang didirikan. Pertama, awal tahun 1980-an media cetak memberi perhatian cukup besar terhadap sajian kartun. Kedua, ketrampilan mengartun lebih mudah diajarkan ketimbang menulis maupun melukis. Ketiga, honor kartun cukup menggiurkan dan prospeknya cukup menjanjikan. Dan keempat, lingkungan Kaliwungu khususnya warga desa Krajan Kulon yang masih kental dengan budaya kebersamaan, kegotongroyongan, sangat potensial untuk pembentukan paguyuban.
Sementara Odios memandangnya secara sederhana. "Motifnya ya senang-senang dan gagah-gagahan saja," ujar Odios. Kokkang menjadi kelompok kartunis yang pertama di Jawa Tengah.
Untuk menandai deklarasi, digelar pameran kartun di Pendopo Kawedanan Kaliwungu, yang dibuka oleh Jaya Suprana dan Dr. Soewondo PS Art dari Perhimpunan Pencinta Humor, Semarang. "Ibukota Jawa Tengah sebenarnya bukan Semarang, tapi Kaliwungu," kata Jaya Suprana.
Pameran karya Itos dan Odios itu juga merupakan upaya untuk memikat anak-anak muda. Tema-tema kartunnya sederhana (gag cartoon) dengan teknik yang sederhana pula. Itulah pameran kartun kali pertama di Kaliwungu. Dan pameran itu berhasil menarik perhatian para pemuda, yang sebagian besar anak muda putus sekolah. Bergabunglah mereka sebagai anggota Kokkang.
Ketertarikan mereka didukung maraknya media cetak yang memungkinkan keterlibatan kartunis. Ruang untuk kartun melebar, dan itu menjadi tantangan yang perlu disikapi secara profesional. "Sekaligus menjawab tantangan kesulitan tenaga kerja," kata Itos.
Tiap Sabtu dan Minggu, mereka membahas isu-isu aktual sambil mempertajam keterampilan membuat kartun, terutama bagi anggota baru. Jika ada kesulitan mereka berkonsultasi dengan seniornya. "Pendek kata kami sediakan air; mau diminum, mau buat mandi, mau buat cuci muka, terserah, selama itu bermanfaat dan tidak buat mengguyur orang lewat," kata Odios.
Anggota Kokkang yang awalnya terbatas mereka yang bermukim di tiga desa: Krajan Kulon, Kutoharjo dan Sarirejo, kemudian melebar ke desa lain. Bahkan ke luar Kaliwungu. Bisa karena pengaruh keluarga maupun pergaulan.”
(Kokkang pun akhirnya beranak-pinak. Ibarat kelinci, anggota-anggota mudanya rame banget. Setelah melewati sekian waktu, maka Buset pun menggambarkan sebuah peristiwa yang bagi Kokkang dianggap sangat memorable, susah untuk dilupakan).
Oktober 1995, persis tengah malam, sebuah mobil kijang berhenti di pinggir jalan, di depan sekretariat Kokkang. Ada tamu penting yang datang khusus mengunjungi mereka. Seorang bermata sipit, berbadan tegap dan berkaca mata. Dia adalah Kosei Ono, pengamat kebudayaan dari Jepang (penulis dan pengamat humor-Red). Dia diantar antara lain oleh kartunis Priyanto Sunarto, Pramono R. Pramoedja yang juga ketua Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti), Yehana SR (Semarang Cartoon Club) dan Prie GS.
Menurut Pramoedja, kedatangan Ono didahului surat-menyurat lewat email antara dirinya dan Ono. Pramoedja mengatakan bahwa di Indonesia, tepatnya di Kaliwungu, terdapat sebuah kampung seperti di Omiwa, kota kecil di Tokyo, Jepang.
Omiwa adalah perkampungan kartunis, yang penduduknya mengartun karena profesi dan mengirimkan karyanya ke segala macam media. Bedanya, kebanyakan kartunis di Omiwa dewasa dan orangtua. Kartunis di Kaliwungu lebih beragam. Ono penasaran, dan datang ke Indonesia khusus untuk berkunjung ke Kaliwungu.
Markas Kokkang seketika ramai. Dialog pun berlangsung meski menggunakan bahasa Inggris. Ono terkesan, dan menuliskan kesan-kesannya pada sebuah buku berbahasa Jepang. "Kok bisa sebuah kampung dengan masyarakat yang sederhana memproduksi kartun yang disebar ke mana-mana. Dengan manajemen produksi yang juga unik," komentar Kosei Ono seperti ditirukan Priyanto Sunarto.
“Tadinya Kosei Ono mengira Kokkang sebagai sindikat. Karena di Jepang nama Kokkang terkenal. Dan setiap lomba kami mengirim dengan satu alamat, dengan banyak orang,” kata Itos.
Tampaknya masih ada penggalan catatan yang masih ingin disampaikan oleh Buset. Berikut tambahan catatan-catatan tersebut. Ini pun sebenarnya telah melompati sekian banyak masalah penting namun karena alasan halaman tak dapat di-review seluruhnya.
JUMAT, 16 Oktobet 1998. Kesibukan tampak di lobi Hotel Sahid Jaya, Jakarta. Beberapa karya kartun dipamerkan di lobi hotel, yang akan berlangsung hingga 18 Oktober. Kartun-kartun itu adalah karya para pemenang dan nominator Festival Kartun 1998.
Presiden B.J. Habibie batal membuka pameran. Ketua dewan juri GM Sudarta sibuk mencari tukang koran di depan hotel. Ia memperolehnya. Dua penjual koran kakak-beradik berusia belasan tahun digandeng GM Sudarta menuju lobi, kemudian duduk di kursi undangan. Beberapa saat kemudian, dua anak bersandal jepit itu memukul gong amat keras berkali-kali. Pameran telah dibuka. Para undangan termasuk beberapa diplomat tertawa.
Pemenang festival kartun bertema reformasi yang diselenggarakan oleh SIMA Communications ini bukanlah nama asing di dunia kartun. Juara I direbut oleh Wawan Bastian (Jakarta); juara II H.O. Dipayana (Jakarta); juara III Muhammad Najib (Jakarta); juara IV masing-masing Dendy Hery Hardono (Bandung), Jitet Koestana (Semarang), dan Muhammad Nasir (Jakarta). Mengalahkan 1.600 peserta.
Pemenang pertama, Wawan Bastian, sebelumnya tergabung dalam Kokkang. Dia pernah mengisi kartun-kartun di majalah Humor, dan pernah memenangi berbagai lomba kartun serta pernah mendapat penghargaan dari Jepang dan Belgia. Bastian menjadi pemenang dalam festival ini dengan karya berjudul “Reformasi Terpecah”. Di situ digambarkan para demonstran dengan membawa huruf masing-masing "R-E-F-O-R-M-A-S-I" berjalan sendiri-sendiri ke berbagai arah. Ada dua nama kartunis lain yang berasal dari Kokkang, yakni Najib dan Jitet Koestana.
Menarik, komentar GM Sudharta dan Wahyu Sardono sebagai dewan juri mengenai karya-karya yang dipamerkan itu. Seperti dilaporkan Kompas, mereka berpendapat, persoalan para kartunis tetap persoalan klasik, yakni kurang kaya dan kurang kuatnya gagasan. Meski dari segi gambar beberapa di antaranya menunjukkan goresan yang kuat.
Beberapa karya kartunis Kokkang, terutama yang masih tinggal di Kaliwungu, dianggap slapstick. Itu juga diherankan Syahrinur Prinka dari majalah Tempo. Menurutnya, meski ada beberapa yang bagus, tapi secara hasil masih standar. “Standar itu lucu. Daya pikir untuk lucu masih ada pada gambarnya, tapi bukan apa yang di belakangnya. Selain gambar, mestinya ada yang dibelakangnya,” ujarnya.
Prinka juga melihat belum ada karya Kokkang yang menonjol. “Dalam artian, belum ada karya yang menonjol karena individualitasnya kuat,” imbuh redaktur senior majalah Tempo ini.
Gag cartoon lebih menonjol ketimbang editorial cartoon. "Mungkin belum, dan belum ada sarana yang bisa memberikan masukan. Pembuat kartun dapat masukan. Pramono, GM Sudharta punya sarana, dapat masukan. Sedangkan mereka (Kokkang) bikin apa yang teringat, kirim," ujar Prinka yang penasaran dan tertarik untuk berkunjung ke Kaliwungu.
Kartunis tetap Suara Merdeka, Prie GS, memandang sisi eksklusivitas editorial cartoon yang tak tersentuh mereka karena ketergantungan media pada kartunis tetap. Dan alasannya masuk akal, media butuh untuk menciptakan maskot, dan kedua butuh silaturahmi teknis; policy media.
Namun ia juga melihat anggota Kokkang, bahkan yang senior pun masih pada strategi yang sama, bacaan dan konvensi-konvensi yang sama, tak beranjak dari tahun 1990-an di era gag cartoon. Padahal tantangan makin baru, dan selera humor juga mulai berubah. “Anggota Kokkang yang ke Jakarta yang tertolong,” ujar Prie GS yang kini memimpin redaksi Cempaka Minggu Ini (Suara Merdeka Group) sambil menambahkan gag cartoon hampir selesai, dan ruang media juga mulai berkurang.
Menurut Pramono R Pramoedja, untuk membuat editorial cartoon, paling tidak kartunis harus berjiwa wartawan. Dan itu tidak dimiliki kartunis Kokkang. Mereka hanya menangkap situasi politik, ekonomi dan sebagainya dari koran. “Kokkang baru pada segi-segi yang humoris, lucu dan menggelitik. Belum yang sakartis, meski tragis,” ujar Pramoedja.
Pramoedja juga menolak ketergantungan pada media. Kartun editorial juga bisa dibuat untuk pameran, koleksi, atau buku.
Tak semua kartun Kokkang slapstick. Priyanto Sunarto tak setuju generalisasi. Meski kartun yang dibuat rata-rata kartun genre atau lelucon sehari-hari tapi tak selalu slapstick (banyolan fisik). "Kan yang bikin sekampung dengan umur, status, profesi dan gender yang berbeda-beda," katanya.
Editorial cartoon, sambung dia, juga berkembang di antara anggota Kokkang. Ia menceritakan pengalamannya membuat pameran Kartun untuk Demokrasi (KuD) selama dua kali. KuD-1 tentang pemilihan umum dan KuD-2 tentang wakil rakyat, diikuti banyak peserta dari Kaliwungu. "KuD-2 malah 40% peserta dari situ. Dan hasil mereka juga bagus-bagus."
Sunarto membandingkan dengan kartun editorial di Jepang yang tersisih dari komik atau manga dan kartun-strip humor. “Di Indonesia masih lumayan diperhatikan. Ada kolom khusus kartun politik di media. Di Jepang orang sudah jenuh kerja, maunya mencari hiburan yang antara lain dengan kartun," kata dosen Institut Teknik Bandung ini.
Odios juga melihat kurangnya iklim apresiasi dan penghargaan di Indonesia yang bisa menopang kartunis hidup layak. Peran media juga amat terbatas. "Nah, kalau tidak ada yang memberi kesempatan, apa harus slonang-slonong. Kan lucu. Media itu penting karena itu ladangnya. Benih kacang tak mungkin tumbuh di udara," ujar Odios berkelakar. Ia kini bekerja di studio kecil di rumahnya; menulis buku, melukis, menulis cerita lucu untuk televisi dan sesekali menulis kolom untuk surat kabar/majalah.
Ide kartun anggota Kokkang bervariasi, dari yang sederhana hingga rumit yang membutuhkan perenungan. Ide bisa muncul ketika melihat kartun-kartun di media maupun katalog-katalog, yang kemudian dikembangkan dalam tampilan yang baru. Acap kali ide juga muncul ketika kartunis sedang dalam proses berkarya. Dari satu ide, muncul ide lanjutannya. Umumnya, tema-temanya berkutat seputar kehidupan sehari-hari. “Kartun itu humor yang universal, apa saja bisa diangkat menjadi kartun,” kata Itos.
Cara lainnya lewat perenungan ketika kekeringan ide atau mencari ide untuk mengikuti lomba yang cenderung tematis. “Meski tematik, katalog atau lomba di luar negeri juga kebanyakan gag cartoon, bukan kartun cerewet,” kata Abidin yang sudah memenangi lima penghargaan internasional.
Kartunis muda Kokkang menyebut editorial cartoon sebagai kartun cerewet yang harus dijelaskan dengan kata atau kalimat.
Pada 23 April 2000, dua anggota Kokkang membuat acara syukuran. Mereka menjamu teman-temannya dari Kokkang dengan hidangan nasi tumpeng dan jajan pasar. Sebuah acara yang rutin dilakukan kalau ada kartunis Kokkang yang mendapat hadiah uang cukup besar.
Keduanya adalah Zaenal Abidin dan Mohammad Muslikh yang baru saja memenangi The Yomiuri Shimbun International Cartoon Contest Tokyo Japan yang diselenggarakan koran Yomiuri Shimbun. Abidin meraih hadiah "Special Prize Selection Committee" dengan karyanya Pintu, dan berhak meraih hadiah: 200.000 yen atau sekitar Rp 13,4 juta. Sedangkan Muslikh memeroleh hadiah "Excellent Prize". Ia mengantongi uang 100.000 yen atau sekitar Rp 6,7 juta.
Kokkang selalu langganan menang di lomba kartun, baik nasional maupun internasional. Menurut Itos, sekitar 15 anggota Kokkang rutin meraih penghargaan. Mereka selalu ikut pameran atau lomba di Jepang, Korea Selatan, Turki, Belanda dan Belgia. Karya yang mereka kirim sesuai tema dan ketentuan penyelenggara; kekerasan, hak-hak asasi manusia, pemilihan umum, banjir, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Para anggota paguyuban kartunis ini sudah ikut lomba di luar negeri sejak 1986. Dan hampir tiap tahun ada saja kartunis dari kampung ini berhasil menggondol juara.
Hingga kini, setidaknya 100 penghargaan internasional sudah teraih. Jumlah hadiahnya lumayan besar, dan dalam mata uang asing pula. "Dengan memenangi berbagai macam lomba kartun di luar negeri, kami ikut berperan sebagai duta dalam diplomasi kebudayaan," kata Itos yang kini bekerja sebagai penilik kebudayaan di Departemen Pendidikan Nasional Kabupaten Kendal. Itos pernah meraih hadiah tujuh kali di luar negeri: Jepang (4), Turki (2) dan Korea Selatan.
Setiap tahun selalu ada undangan lomba dari mancanegara. Selain Yomiuri Shimbun, juga ada The Manga Cartoon Exhibition Hokaido Japan, Sport Chosun International Cartoon Contest Seoul of Corea, Internationaal Cartoonfestival Knokke Heist (Belgia) atau International Nasreddin Hodja Cartoon Contest (Turki). Namun kini, mereka selektif untuk mengikuti lomba. Acuannya adalah berapa hadiah yang panitia lomba sediakan. “Jepang wajib, lainnya sunnah,” kata Abidin, yang masuk Kokkang tahun 1994.
Karya-karya mereka juga menghiasi katalog-katalog kartun dalam dan luar negeri.Dari kampung kecil di Jawa Tengah, Kokkang menjadi duta kesenian Indonesia di mancanegara. Nama Indonesia pun harum bak melati, tanpa mengeluarkan kocek. Sementara di Indonesia sendiri ruang mereka makin sempit. Setidaknya makin sedikit media yang menyediakan ruang kartun. “Kami sudah biasa dikemplang media. Pernah juga tak dibayar,” kata Itos yang pernah meraih Rotary Club Semarang atas pengabdian masyarakat terhadap kebudayaan, tahun 1997.
Artinya, masih panjang pencapaian yang mesti diraih. "Itu soal paradigma. Ketergantungannya terhadap media massa sangat besar," ujar Odios mencoba berotokritik.
Malam makin larut, dan hujan mulai kelelahan. Sambil memamerkan karya-karyanya yang berjumlah ribuan, Itos bersuara lantang tanpa kesan meratap. "Penghargaan terhadap kartunis di Indonesia amat kurang. Pemerintah hanya mendata dan tak pernah melakukan pembinaan. Ibarat mau merumput, saya tak dikasih sabit," katanya.
(Buset pun mengakhiri penuturannya). ***

Kokkang 26 Tahun, Bukan Sekadar Penggembira



BAGI pembaca awam yang sering menjumpai inisial Kokkang di bawah sebuah gambar kartun di berbagai media cetak (ibukota maupun daerah) mungkin sering bertanya-tanya, penanda apa kata Kokkang itu? Kokkang adalah sebuah kelompok atau paguyuban kebudayaan yang berarti Kelompok Kartunis Kaliwungu, berlokasi di sebuah kota Kecamatan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Para pengamat acapkali melihat kiprah Kokkang dari kaca mata romantisme dengan pengharapan yang sangat berlebih. Belasan tahun yang lalu, GM Sudarta pernah menyinggung Kokkang di Majalah Prisma dan melihat keunikan komunitas ini yang menebar di berbagai kampung dan bahkan dari satu keluarga terkadang dijumpai dua atau tiga kartunis sekaligus. Belum lama, Jaya Suprana, penyebar wabah humor di Semarang pada tahun 80-an, juga bertanya dengan nada khawatir kalau-kalau eksotisme Kokkang sudah larut oleh kikisan waktu dan berakhir dengan kepunahan; artinya, romantisme Kokkang yang unik itu, tak ada lagi. Sementara itu, tak kurang dari sekian puluh media cetak (koran/majalah) maupun TV yang telah mengekspose dan memprofilkan apa dan siapa di balik paguyuban yang hingga kini tetap survive itu dengan pendekatan yang sama: romantisme sebuah warisan budaya yang masih hidup.
Semua respon itu sungguh besar artinya bagi Kokkang. Terutama kaitannya dengan interaksi budaya yang bisa ditumbuhkan dan dilestarikan bagi lingkungan sekitar. Namun dalam perjalanannya yang sudah 26 tahun (bulan Mei ) tahun 2008, Kokkang tak sadar telah terjebak pada putaran arus untuk tetap menjadi eksotis dan naif guna memberikan kegembiraan bagi pihak luar yang mengherani keanehan maupun keunikan-keunikannya. Semacam heritage yang dipaksakan. Mengapa demikian? Karena pilihan itu mengandung konsekuensi yang cukup siginifikan bagi para pelaku (kartunis) yang berkiprah di dalamnya; sementara itu fakta di luar tak bisa dielakkan, lahan untuk berkarya para kartunis makin menyurut kendati jumlah media cetak secara kuantitas justru makin berlimpah. Kekhawatiran yang bisa timbul adalah Kokkang akan bubar dan warisan budaya itu tinggal kenangan bila tak ada lagi media massa/cetak yang menyediakan diri untuk ekspresi mereka. Ini artinya, pendekatan romantisme acapkali melupakan siklus kehidupan yang sangat vital antara proses berkarya dan sesudahnya.
Selain melihat Kokkang dari kaca mata eksotisme tadi, akan lebih sehat, jika kita juga melihat Kokkang sebagai sebuah realitas komunitas yang di dalamnya terdiri atas individu-individu yang perlu berkembang dan mandiri. Artinya, individu-individu itu memerlukan semacam “jaminan” bahwa dengan pilihannya itu (menjadi kartunis) mereka dapat meniti karier di kemudian hari. Kokkang memang tak pernah memberikan jaminan apa-apa kepada para anggotanya, karena Kokkang selama ini bertindak dan bergerak layaknya “de schooling society” bagi para anggotanya. Mereka bebas menentukan sikap sejauh mereka telah merasa mampu dan memiliki “sayap” untuk berkiprah lebih jauh di institusi luar Kokkang. Dari aspek ini, tidaklah mengecewakan. Sejumlah kartunis/karikaturis media ibukota, bahkan, merupakan figur-figur “lulusan” Kokkang. Sebutlah nama-nama, misalnya: M. Najib (freelancer untuk majalah Kicau Bintaro, Muba Randik, harian Seputar Indonesia dll.), M. Nasir (Tabloid Bola), Wawan Bastian (Tabloid Aura), Ifoed (Communicartoon Studio), Hertanto Soebijoto (Redaktur Harian Warta Kota), Qomar Sosa (Harian “Merdeka”), M. Tafin (Ilustrator di Harian Rakyat Merdeka), Tyud Tahyudin (Seputar Indonesia), Tyok (Harian Media Indonesia), Prie GS (Pemred Tabloid Cempaka Minggu Ini dan Motivator Pengambangan Diri), Djoko Soesilo (Harian Suara Merdeka), Wahyu Kokkang (grup Jawa Pos) dan masih banyak lagi lainnya.
Dari komonitas Kokkang yang ada di sanggar Kaliwungu, muncul nama-nama potensial seperti misalnya: M. Muslih (yang kini menjadi ketua teknis), Muchid R, Zaenal Abidin, M. Nazar, Wijanarko, Aziz, Qodri, Misri, Tevi dan banyak lagi lainnya yang tak dapat disebut satu persatu. Ini artinya, sebuah advantage, hadiah atau pengharapan di masa depan menjadi sesuatu yang penting bagi komunitas Kokkang. Mereka tak mungkin dibiarkan jalan di tempat dan tak jelas kelanjutannya. Lestarinya Kokkang, masuknya anggota baru dari kalangan muda yang jumlahnya mencapai puluhan, itu juga dipicu oleh advantage dan pengharapan tadi. Jadi melihat Kokkang sebagai sebuah fakta dan kasus yang ada di Kaliwungu saja, sangat tidak berimbang dan menafikan pemikiran-pemikiran yang melatarbelakangi strategi pengembangan kelompok tersebut. Dan itu bisa dilakukan dari mana saja, di luar Kaliwungu, sekalipun.
Dari diskusi-diskusi tidak resmi, didapat visi-misi anggota Kokkang yang selama ini masih dipendam dalam hati. Mereka mendambakan agar di masa depan (entah kapan) Kokkang dapat memiliki kantor sekretariat sendiri. Tidak terus-menerus menumpang orang lain. Sekretariat itu hendaknya memiliki ruang-ruang yang punya fungsi: administratif, dokumentatif, aktivitas kreatif, ajang pamer karya secara rutin dan ruang untuk kegiatan diskusi atau sejenisnya. Harapan di masa depan ini memang belum dapat diproyeksikan bingkai waktunya. Mereka menyadari, sebagai organisasi budaya, hingga kini memang total bergerak dari iuran sebagian honorarium kartun mereka yang dimuat di media cetak. Jadi secara bergurau mereka boleh nyeletuk, bahwa hingga detik ini mereka dari segi finance termasuk organisasi yang masih bersih dari kooptasi politik, LSM atau fund mana pun. Independen dan bersih itu, mengandung konsekuensi “kemiskinan” yang juga bersih. Artinya, meja kursi, milik organisasi pun mereka tak punya. Itulah Kokkang.
Bila menengok sejarahnya, organisasi sejenis Kokkang sebenarnya cukup banyak. Pada awal 80-an juga, muncul nama-nama seperti Pakyo (Paguyuban Kartunis Yogyakarta), Secac (Semarang Cartoon Club), Karung (Kartunis Bandung), Pokal (Padepokan Kartunis Tegal), Kelakar (Kelompok Kartunis Purwokerto), Ikan Asin (Ikatan Kartunis Banjarmasin), Terkatung (Terminal Kartunis Ungaran) dan lain-lainnya. Namun dalam rentang waktu yang dua dekade ini, tampak sebagian di antaranya yang masih bisa bergerak, sebagian yang lain masih merangkak, sebagian lagi yang tak jelas jejaknya. Itu semua sah-sah saja. Apakah paguyuban-paguyuban semacam itu hanya akan difungsikan sebagai mode pada periode waktu tertentu, atau disikapi dengan serius dan untuk jembatan aktualisasi diri, semua terpulang pada masing-masing kelompok dan individu. Tak terkecuali organisasi yang konon bertaraf nasional semacam Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia) pun, kini seperti menyelinap, menyembunyikan muka di sela hingar-bingar pekik eforia reformasi yang tak jelas ujungnya. Tak terlihat kontribusi Pakarti pada persoalan-persoalan mendasar negeri ini, misalnya masalah kebudayaan atau kesenian sekalipun; padahal bila dicermati negeri ini sudah berkembang menjadi sangat lucu; bukankah itu “makanan” empuk bagi komunitas karikaturis? Kelompok humoris? Apa yang terjadi sebenarnya dengan Pakarti?
Kokkang 26 tahun, mungkin masih ada sedikit harapan. Kendati organisasi, kelompok atau paguyuban apa pun tak lebih dari kurungan yang bila salah disikapi bisa membekukan penghuninya, namun tradisi berkesenian yang masih menjadi perekat bagi kelestarian semangat para anggota, hendaknya tetap terjaga sebagaimana awal mula kelompok tersebut didirikan. Pertanyaannya kemudian, bila lahan tempat eskpresi para kartunis, termasuk Kokkang makin sempit, lalu apa yang dilakukan mereka? Mungkinkah berkarya kartun, yang notabene adalah karya garfis tanpa harus tergantung pada media cetak? Pertanyaan ini memang pernah mengemuka dan mendatangkan sejumlah gagasan solusi; seperti misalnya melompat ke film animasi kartun, melukis dengan acuan bentuk dan isi yang serba kartunal/karikatural, mendesain kaos dengan total serba bergaya kartun, membuat ilustrasi bergaya kartun untuk buku; namun solusi ini tidak selalu mudah diaplikasikan karena peran pihak lain, pemodal, misalnya. Dan kini sedang dijajagi dengan adanya tawaran dan prospek yang ditiupkan oleh Museum Kartun Indonesia Bali. Mungkinkah tawaran dan prospek itu akan mampu menjawab sebagian dari cita-cita Kokkang? Waktu yang akan menjawabnya.
Sedangkan mengartun untuk konsumsi media massa, para kartunis sendiri sudah dengan sendirinya mampu dan tak menjumpai banyak kesulitan teknis. Modal alat yang dibutuhkan paling banter hanya tinta, water color, kertas, perangko untuk pengiriman dan sekadar buku-buku/koran/majalah untuk referensi. Tetapi, alam tampaknya selalu terkembang menjadi guru. Kendati secara faktual, media cetak di Indonesia selalu merupakan lahan subur bagi para kartunis, tak terhindarkan, pikiran mereka akhirnya mulai menengok ke beberapa lembaga penyelenggara lomba kartun internasional. Para penyelenggara itu ada di Jepang, Korea Selatan, Belgia, Turki, Italia dan lain-lain. Jumlahnya cukup banyak. Rutin tiap tahun dengan tema yang berbeda-beda. Hadiahnya pun tidak main-main. Ada yang berupa medali (emas), sepeda, namun tak kurang pula penyelenggara yang memberikan hadiah hingga 50 jutaan rupiah ke atas untuk kategori pemenang bergengsi. Dari 30 hingga 45 kartunis Kokkang potensial, paling tidak 30% di antaranya sudah pernah dan bahkan rutin menjadi pemenang lomba tingkat manca negara tersebut, kendati bukan kategori yang bergengsi.
Respon dan kritik tentang Kokkang datang silih berganti. Salah satu kritik yang paling mendapat perhatian adalah soal tema dan isi kartun yang digarap dengan teknis itu-itu saja dan ini banyak terlihat, termuat di berbagai media Indonesia. Ketika hal ini didiskusikan, terungkap bahwa hal itu terjadi lantaran, media cetak di Indonesia memang menghendaki corak kartun dengan teknis penggarapan sederhana dan ide-ide yang sederhana pula; artinya, mudah dimengeri pemirsa. Untuk karya-karya karikatur dan kartun bagi konsumsi advertising, misalnya, tentu saja memerlukan pendekatan dan penggarapan yang sangat berbeda, demikian konfirmasi anak-anak Kokkang. Di luar jawaban yang bernada apologis tersebut, sebagian anggota Kokkang yang lain juga menerima bahwa kritik itu tetap akan dijadikan cambuk dan masukan bagi semangat berkarya mereka. “Sebagian besar dari kami, belajar mengartun langsung dari teknik deformatif dan plethat-plethot semacam itu. Hampir jarang yang belajar dari teknik menggambar yang baku; misalnya dari pemahaman anatomi, proporsi, persepektif dan lain-lain. Wajar saja kan, bila pilihan ini mengandung konsekuensi…” ujar salah seorang anggota Kokkang.
Ya, 26 tahun lebih sekian bulan usia Kokkang. Seharusnya sudah punya tempat dan sekretariat, hasil dari kerja keras dan cucuran keringat!

Darminto M. Sudarmo, salah seorang pendiri Kokkang dan tulisan ini merupakan pendapat pribadi atau selaku pengamat humor Indonesia.


AyuWage Services - Get Paid to Visits Sites and Complete Surveys