SECANGGIH APAPUN PERALATAN DAN TEKNOLOGI TETAP SEBUAH ALAT

KOMPETISI TETAP HARUS TERJADI

KREATIVITAS MANUSIA YANG MEMBEDAKANNYA

ADA YANG MENANG DAN KALAH ITU BIASA

MAKNA HIDUP HADIR BILA KITA BERAKTIVITAS

Monday, December 1, 2008

Profil Kokkang



Tahun 1982, Paguyuban Kartunis Yogyakarta (Pakyo) mengadakan pameran kartun nasional.Pameran yang menarik itu tak dapat diikuti oleh Odios (Darminto M. Sudarmo) maupun Itos Boedy Santosa. Keduanya sudah sama-sama meminati bidang kartun, terutama setelah Odios berhasil menularkan pengetahuannya tentang teknik mengartun dan mengirim kartun ke media massa kepada Itos yang belum lama dikenalnya. Berita soal pameran Pakyo itu membuat mereka iri. "Kami cuma menyantap beritanya dari media massa," kata Odios.
Suatu saat, ketika Odios dan Itos hendak ke kantor pos Kaliwungu, tiba-tiba terbersit gagasan untuk membuat perkumpulan sejenis Pakyo. Nurrochim kemudian diajak. Dan lahirlah Komplotan Kartunis Kaliwungu --yang kemudian diganti menjadi Kelompok Kartunis Kaliwungu-- 10 April 1982. Markasnya ditetapkan di rumah Itos, yang suka berorganisasi dan senang rumahnya dijadikan markas, di Jalan Boja 106, Kaliwungu.
Menurut Itos, ada sejumlah alasan mengapa Kokkang didirikan. Pertama, awal tahun 1980-an media cetak memberi perhatian cukup besar terhadap sajian kartun. Kedua, ketrampilan mengartun lebih mudah diajarkan ketimbang menulis maupun melukis. Ketiga, honor kartun cukup menggiurkan dan prospeknya cukup menjanjikan. Dan keempat, lingkungan Kaliwungu khususnya warga desa Krajan Kulon yang masih kental dengan budaya kebersamaan, kegotongroyongan, sangat potensial untuk pembentukan paguyuban.
Sementara Odios memandangnya secara sederhana. "Motifnya ya senang-senang dan gagah-gagahan saja," ujar Odios. Kokkang menjadi kelompok kartunis yang pertama di Jawa Tengah.
Untuk menandai deklarasi, digelar pameran kartun di Pendopo Kawedanan Kaliwungu, yang dibuka oleh Jaya Suprana dan Dr. Soewondo PS Art dari Perhimpunan Pencinta Humor, Semarang. "Ibukota Jawa Tengah sebenarnya bukan Semarang, tapi Kaliwungu," kata Jaya Suprana.
Pameran karya Itos dan Odios itu juga merupakan upaya untuk memikat anak-anak muda. Tema-tema kartunnya sederhana (gag cartoon) dengan teknik yang sederhana pula. Itulah pameran kartun kali pertama di Kaliwungu. Dan pameran itu berhasil menarik perhatian para pemuda, yang sebagian besar anak muda putus sekolah. Bergabunglah mereka sebagai anggota Kokkang.
Ketertarikan mereka didukung maraknya media cetak yang memungkinkan keterlibatan kartunis. Ruang untuk kartun melebar, dan itu menjadi tantangan yang perlu disikapi secara profesional. "Sekaligus menjawab tantangan kesulitan tenaga kerja," kata Itos.
Tiap Sabtu dan Minggu, mereka membahas isu-isu aktual sambil mempertajam keterampilan membuat kartun, terutama bagi anggota baru. Jika ada kesulitan mereka berkonsultasi dengan seniornya. "Pendek kata kami sediakan air; mau diminum, mau buat mandi, mau buat cuci muka, terserah, selama itu bermanfaat dan tidak buat mengguyur orang lewat," kata Odios.
Anggota Kokkang yang awalnya terbatas mereka yang bermukim di tiga desa: Krajan Kulon, Kutoharjo dan Sarirejo, kemudian melebar ke desa lain. Bahkan ke luar Kaliwungu. Bisa karena pengaruh keluarga maupun pergaulan.
Misalnya, Itos menularkan kemampuannya kepada adik-adiknya: Pujo Waluyo, Budi Setyo Widodo, dan Budi Mulat Purnomo. Karena pergaulan, Itos menularkan hobi kartunnya ke tetangga kampung, Muhammad Nasir. Nasir berhasil menciptakan kartun dan dimuat di media cetak, yang lantas menarik saudara-saudaranya: Najib (kakak), Azis (adik), Nazar (keponakan) dan sebagainya. Mata rantai itu terus berputar, dan memunculkan banyak kartunis baru, baik sebagai hobi maupun profesi. Umumnya adalah kartunis keluarga.
Dalam tenggang waktu tertentu, pertemuan-pertemuan dan kursus-kursus pun acap digelar. Memberi pembekalan prinsip-prinsip kesenirupaan, bagaimana mengenal media, pendalaman filosofi hingga soal-soal teknis semacam penggunaan tinta, pengenalan karakter kertas dan penggalian ide.
“Saya selalu mengajarkan mereka filosofi orang berak. Gambar, kirimkan ya sudah, nggak usah dinanti. Masalah honor itu nanti. Itu kan efek. Yang penting proses, berkarya. Sehingga ditolak pun menjadi sesuatu yang biasa,” tegas Itos.
Pengaruh-mempengaruhi adalah hal wajar dalam paguyuban. Umumnya, kartunis baru akan terpengaruh kartunis satu generasi di atasnya. Kemudian lama-lama mereka akan menemukan bentuknya sendiri. Ciri visual kartunis Kokkang biasanya bermata lebar dan berhidung besar.
"Saya percaya, tidak ada yang baru di bawah matahari. Jadi pengaruh itu sesuatu hal yang manusiawi. Saya memang terpengaruh, terutama oleh produktifnya kartunis Subro, Johny Hidayat AR dan lain-lain. Secara semangat mungkin, tapi secara teknis seingat saya tetap berjuang dengan cara saya," kata Odios.
Perlahan tapi pasti, kartunis-kartunis muda muncul, dan mewarnai penerbitan di Indonesia. Karya mereka acap hadir di Nova, Bola, Gema Olahraga, Intisari, Suara Pembaruan, dan media yang menyediakan ruang kartun. “Intisari adalah media paling lama menyediakan kolom kartun, beroplah besar, paling eksis dan memberi penghargaan paling tinggi. Lainnya, buka tutup,” kata Itos.
“Intisari adalah legenda, sebagai inspirasi dan ukuran bahwa jika sudah dimuat maka menang. Intisari juga berhasil mewibawakan kartun, tidak hanya sebagai stopper. Bahkan kadang satu halaman dan colour,” imbuh Prie GS yang masuk Kokkang tahun 1987 karena mengidolakan Odios dan Itos.
Acap kali ada pihak media yang menelpon dan mengabari tersedia kapling dengan tema tertentu. Atau bahkan menunjuk orang-orang tertentu untuk mengisi ruang.
Beberapa anggota Kokkang juga merambah media cetak, mengisi kebutuhan redaktur, ilustrator, kontributor lepas maupun wartawan: M. Najib (Kicau Bintaro, Muba Randik, Seputar Indonesia dll), Ifoed (Communicartoon Studio), Budi Setyo Widodo/Tiyok (Media Indonesia), M Nasir (Bola), Prie GS (Pemred Cempaka Minggu Ini), Nurrochim (Majalah Pelajar MOP), Joko Susilo (Suara Merdeka), Pujo Waluyo (sebuah penerbitan di Jakarta), Muktafin (Rakyat Merdeka), Hertanto (Redaktur Warta Kota), M Komarudin (Harian Merdeka), Wawan Bastian (Tabloid Aura), Wahyu Kokkang (Jawa Pos) dan sebagainya. Meski sebagian ke Jakarta, Kokkang sepertinya tak akan pernah habis. Selalu ada kartunis baru lahir.

Budi Setiyono, Wartawan Budaya yang pernah meliput Kokkang secara mendalam.

Wednesday, November 12, 2008

Saturday, November 1, 2008

Garis Singgung


SAUDARA, kolom ini akan mengunjungi Anda terus-menerus, sepanjang hari, sepanjang waktu; eh, maksudnya siap melayani Anda whenever you need; dimaksudkan sebagai klinik mental atau terapi psikologis. Tetapi dijamin tidak ada tendensi menggurui atau memberikan jalan ke luar. Karena itu Anda harus bijak dan pandai-pandai putar otak.
Bila Anda pandai-pandai menyiasati, Anda akan beroleh keuntungan. Tetapi bila sebaliknya, maka hasilnya bisa dipastikan bakal tambah berantakan. Ha-ha!!!
Juga disarankan, bacalah kolom ini ketika Anda dalam keadaan sakit hati. Menyimpan dendam kesumat. Jiwa lungkrah, hati loyo, atau bila mungkin dalam keadaan yang paling fit, atau sangat sehat, atau sangat wal”afiat, atau sangat gembira, atau sangat bahagia, atau sangat tenteram, atau keadaan positif lainnya, maka cepat-cepatlah Anda bikin perkara dengan sekitar Anda, sebelum membaca ini kolom. Supaya apa? Yah, supaya adrenalin Anda naik, supaya daya hidup Anda menggeliat.
Mari kita ngomong soal garis singgung.
Pernahkah Anda membayangkan, berapa juta rakyat negeri ini yang sedang tersinggung pada detik Anda membaca artikel ini? Berapa juta pemimpin negeri ini yang sedang tersinggung pada detik ini juga?
Baiklah itu tidak untuk kita jawab terburu-buru. Persoalan yang ingin dimajukan di sini adalah mengapa mereka bisa tersinggung?
Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh para ahli jiwa raga, dapatlah dideteksi ciri-ciri orang yang gampang tersinggung. Atau paling tidak dalam seharinya pernah menderita penyakit yang bernama tersinggung itu.
Mereka antara lain:
- Orang yang banyak memiliki kesalahan, baik sengaja maupun yang direncanakan.
- Orang yang dalam hidupnya gemar berutang, baik yang gali lobang tutup
lobang maupun yang gali lobang kubur awak sendiri.
- Orang yang gemar melakukan lima M (mencuri, main judi, main perempuan/main laki- laki, membunuh, minum air keras, eh, minuman keras).
- Orang yang gemar sewenang-wenang terhadap sesama.
- Orang yang mementingkan diri sendiri.
- Orang yang terlalu ambisius, suka menjilat atasan-menginjak bawahan dan menginjak- injak HAM.
Indikasi yang bisa dijadikan pedoman, semakin mudah seseorang dihinggapi rasa gampang tersinggung, semakin jelas emosinya yang labil. Kekanakan atau malah tak punya jati diri sama sekali. Orang-orang semacam ini, tidak pantas dijauhi, tetapi harus diakrabi (agar kita ketularan gampang tersinggung? O, bukan!). Agar kita bisa menyinggung mereka lebih leluasa? Juga bukan. Agar kita bisa saling singgung-menyinggung? Bukan juga! Lalu apa dong maksudnya? Ya itu tugas Anda untuk memutar otak biar kita terlihat gagah karena tampak lagi berpikir.
Beberapa akibat setelah orang kemasukan penyakit tersinggung bermacam-macam. Sebagian ada yang buru-buru menghindar, lalu menyakiti diri sendiri nyaris kayak seorang maniak. Sebagian yang lain mencak-mencak dan melakukan agresivitas berlebihan. Misalnya membuang uangnya yang berjumlah ratusan ribu ke jalan raya (bohong). Memecahkan barang-barang pecah belah, seperti piring, gelas, kacamata, pinggan, hiasan-hiasan keramik, kaca jendela, lemari, pintu dan lain-lainnya. Setelah semua barang-barang itu habis, lalu dia pecahkan kepalanya sendiri (juga bohong!).
Dikhawatirkan sekali bila yang tersinggung ini orang-orang yang sedang kuat atau kuasa pada zamannya. Dia bisa melakukan hal-hal yang sangat personal dengan mengaku-aku sebagai tindakan dinas atau resmi atau atas nama negara. Contohnya Kaisar Nero yang membakar kota Roma, atau Hitler yang hipernasionalis lalu berhobi membunuh orang-orang Yahudi. Bahkan di sekitar Anda, bila ada salah seorang warga desa tak mau melakukan kerja bakti karena ada alasan atau keperluan yang sangat prinsip, cepat saja, Pak RT atau Pak RK atau Pak Lurah menuduh yang macem-macem. Yang inilah, yang itulah. Lebih-lebih bila Anda selalu absen setiap ada giliran kerja bakti atau siskamling.
Dan yang paling ajaib, ada seorang bawahan di suatu instansi yang kritis dan cerdas. Dalam setiap rapat pertemuan dia selalu mempertanyakan tanggungjawab secara administratif mengenai penggunaan dana dan lain-lain yang dalam laporan SPJ (Surat Pertanggung Jawaban) selalu tercantum lengkap dan “otentik”, padahal dalam praktiknya tidak ada sama sekali. Sang pimpinan akhirnya tersinggung, meskipun tahu bawahannya benar. Tapi karena sudah terlanjur basah, alangkah berat menarik lidah, apalagi menjilat ludah, lalu dia mengeluarkan power dan kuasanya dengan marah-marah.
Pada kesempatan yang “manis” karena dia kuasa, dikirimlah (baca: dimutasi dengan penuh rasa dongkol) sang bawahan yang membahayakan kedudukannya ini ke sektor dan tempat yang maha sulit dan serba tak berkutik.
Begitulah bila orang tersinggung.
Karena perkara garis singgung pula, ada buruh mogok, ada toko mogok buka, ada koran atau majalah kena breidel, eh mogok terbit, ada karyawan kena PHK, eh mogok dinas. Ada rakyat mogok makan (di Ethiopia), ada gunung mogok bertapa (di Meksiko dan Colombia). Ada penumpang pesawat dibajak, lalu membiarkan dirinya ditembusi peluru oleh pasukan antiteroris. Ada wartawan mogok cari berita, lalu meminta para pejabat mewawancarainya. Pendeknya, segala macam perkara bisa terjadi bila makhluk yang bernama manusia sudah terserang penyakit yang bernama tersinggung.
Bila Anda sendiri yang kena, apa yang akan Anda lakukan?
Sesuai dengan janji pada awal tulisan ini, soal jalan keluar maupun petunjuk tak bakal diberikan, maka soal Anda akan bersikap apa ketika Anda tengah tersinggung, itu sepenuhnya menjadi hak dan kewajiban Anda sendiri bukan?
Sebenarnya saja, kalau Anda mau percaya (kalau tidak, ya boleh), tidak selamanya perilaku tersinggung itu buruk. Atau selalu merugikan. Karena rasa tersinggung dapat menjadi daya dorong semangat untuk membuktikan bahwa dirinya tidak segoblok yang dituduh orang. Dengan tersinggung secara tepat, kadang kita justru memperoleh hasil dari situasi yang ada. Misalnya orang menjadi tidak terlalu kurang ajar kepada kita.
Akhirnya kita bisa menarik satu garis tenggang rasa, bahwa rasa ketersinggungan bisa mengakibatkan kita menjadi tidak disukai, menjadi disegani, atau membuat orang menjadi enggan sama sekali. Bagian mana yang bakal Anda peroleh dalam kancah pergaulan, itu sepenuhnya tergantung pada sikap Anda sendiri. Bagaimana, di mana, kenapa, bilamana, kepada siapa, untuk apa Anda tersinggung. Bila tepat mengambil waktu mungkin saja keberuntungan yang Anda peroleh.
Tetapi, dunia tak pernah lupa mencatat, bahwa orang-orang bijak bestari adalah orang-orang yang dapat menertawakan ketololan, kesialan dan kekurangan diri sendiri. Di bagian mana kata tersinggung ditempatkan? Mungkin orang-orang tersebut tersinggung saat melihat kemanusiaan direndahkan; keadilan dan hak-hak orang lemah diinjak-injak oleh penguasa. Jadi untuk dapat tersinggung, tak cukup bila sekadar persoalan-persoalan teknis, apalagi yang terkait hanya dengan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan dirinya.
Bagaimana dengan kesabaran?
Orang yang terlalu sabar, harga dirinya gampang diinjak-injak; orang makin berani menumpahkan ejekan dan olok-olok. Namun jangan lupa; bisa pula menjadikan kita tampak semakin berwibawa, dan orang menjadi sangat segan dengan ketenangan yang kita miliki.
Sekali lagi itu tergantung kepada lima W satu H di atas (kayak jurnalistik saja!). Tahu kan artinya? Yah, kalau tidak, putar otak sedikitlah untuk memecahkan artinya.
Secara umum, orang yang sangat gampang tersinggung atau garis singgungnya amat tipis, sesungguhnya memiliki bakat melawak yang amat besar. Seorang humoris kaliber. Benarkah? Benar!
Yang dimaksudkan di atas adalah pelawak dalam kehidupan yang sesungguhnya. Coba saja kalau Anda tengah ngobrol dalam satu kelompok, tiba-tiba karena sesuatu omongan yang biasa-biasa saja, salah seorang dari mereka menampakkan sikap tersinggung dan marah yang ditandai dengan mimik mukanya berwarna merah. Maka bisa dipastikan teman-teman yang lain bakal diam seribu basa. Tapi bisa dijamin dalam hati menertawakan ulah si pemarah sambil terbahak-bahak. Sambil berucap, kasihan.....
Apa jadinya bila pelawak sampai dikasihani penontonnya?
Nah? Anda semua pembaca kolom ini, semisal Anda bukan seorang humoris, tapi pasti punya selera humor cukup waras, kan? Karena itu Anda pasti juga punya pandangan yang kritis dan tajam tentang segala hal yang tidak beres di lingkungan Anda. Punya daya nalar yang mengagumkan. Punya kepekaan yang luar biasa. Pendeknya, ekspresi alami yang bakal muncul dari tipe orang-orang semacam Anda adalah pribadi mandiri dan berpikir merdeka; berani beda. Saat melempar umpan atau serangan dalam percakapan Anda selalu jitu.
Tetapi pernahkah Anda berpikir, bila semua yang serba “hebat” itu milik orang lain dan umpan/serangan yang jitu menimpa diri Anda sendiri? Apa yang akan Anda lakukan?
Tak usah dijawab! Bila toh Anda bersikeras melakukan, itu tandanya Anda orang tak sabaran. Cukup renungkan saja. Daaaaag! Sampai jumpa di kesempatan lain atau nanti entah kapan.

Darminto M. Sudarmo, penulis dan pengamat humor.

Wednesday, September 3, 2008

Museum Kartun Indonesia Bali Fair



Sebuah perhelatan yang cukup meriah akan berlangsung di lokasi Museum Kartun Indonesia Bali dengan tema "Parade Seni Kartun Nasional 2008". Para kartunis yang ambil bagian adalah dari berbagai lini. Dari lini atas, yang tergolong senior adalah GM Sudarta, Pramono R. Pramoedjo, Priyanto Sunarto dan seangkatannya. Acara tersebut dilangsungkan mulai 19 hingga 31 Oktober 2008, non-stop!Kemudian disusul kartunis lini khusus; yakni yang tergabung dalam kelompok: KOKKANG, yang pada perayaan kali ini memang diundang oleh Museum secara khusus agar menampilkan karya kartun yang tidak tidak terbatas pada gambar untuk dimuat di media massa atau keperluan grafis tertentu; tetapi yang lebih beda dan variatif. Maka, ada kemungkinan kelompok ini akan menampilkan karya-karya audio-visual, bahkan animasi kartun hingga karya-karya desain untuk keperluan iklan, percetakan dan merchandise lainnya.Acara yang tak kalah spektakular adalah "Anugerah Maestro" untuk kartunis Augustin Sibarani. Dilaksanakan dalam jadwal yang sudah terprogram. Kegiatan lain yang pasti menarik perhatian bagi masyarakat umum adalah selain kunjungan ke Museum Kartun Indonesia Bali, juga dilakukan lelang kartun para kartunis senior; sehingga masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mengoleksi karya-karya mereka.Bazar kartun, demo melukis karikatur wajah, workshop kartun, hingga belanja buku-buku kartun/humor di bookstore museum, tersedia. Pengunjung benar-benar diajak ke dalam suasana wisata dan karnaval kartun yang baru terjadi di Indonesia ini. Mungkin juga di Asia Tenggara.Kartunis nasional lain yang berpartisipasi dalam bursa kartun antara lain: Jitet Koestana, Tommy Thomdean, Didie SW, M. Nasir, Hanung Kuncoro, Jango, Koenan Hoesie, Pamudji MS dan banyak lagi lainnya.

Parade Seni Kartun Nasional di Bali




Michael Jackson, Karya GM Sudarta


Obrolan Ringan Soal Karikatur



Oleh Darminto M Sudarmo

KARIKATUR adalah bagian dari seni grafis. Di Indonesia, secara salah kaprah sudah diidentikkan dengan tajuk rencana dalam bentuk gambar lucu. Menghadapi karya karikatur, orang selalu mempersiapkan diri agar memperoleh opini dan kelucuan. Karena itu karikatur yang tak ada opininya, bisa “dituduh” sebagai kartun murni (gag cartoon). Begitu pula bila tidak ada kelucuannya, bisa dikatakan sebagai pamflet atau poster.
Dalam karya karikatur pula selalu ada totalitas dari kompleksitas permasalahan. Saat beropini, misalnya, cenderung memilih jurus logika balik atau antitesa; dimaksudkan sebagai peringatan pertama akan adanya suatu ketidakberesan yang mungkin terjadi, atau sekadar menyampaikan masalah yang sedang hangat ke permukaan.
Proses pengolahan karya karikatur, esensinya memadukan unsur wartawan, seniman dan intelektual. Di mana, informasi diolah oleh proses opini intelegensia, lalu dikemas dalam sajian kreativitas seorang seniman. Yang harus memperhitungkan unsur-unsur estetika.
Menurut GM Sudarta, menikmati karikatur adalah menyimak wajah kita sendiri. Kedewasaan kita bisa diukur sejauh mana kita bisa menertawakan diri kita sendiri. Sementara orang masih mengatakan bahwa dunia karikatur kita belum matang. Ini ada kaitannya dengan kehidupan kritik dan pers kita. Tapi apakah benar demikian?

Mati Ketawa Cara Indonesia
Suatu kali kita lihat karikatur karya T. Sutanto yang terbit di Mingguan Mahasiswa, Bandung, pada tahun enampuluhan. Digambarkan di sana seorang anggota ABRI berjalan beriringan dengan mahasiswa dalam langkah serempak. Hanya saja bayonet sang ABRI menghadap ke belakang, ke arah sang mahasiswa. Karikatur yang tajam, sekaligus mengundang senyum yang getir. Kemudian kartunis-kartunis besar di zaman permulaan Orde Baru, seperti Sanento Yuliman, Hariadi S. Keulman, menghadirkan karya-karyanya yang tajam selain di Mingguan Mahaiswa juga di Harian Kami.
Periode di atas mungkin bisa dibilang periode zaman emas kritik dalam karikatur, kalau ukurannya adalah ketajaman dan keberanian. Tapi yang kita lihat kemudian adalah senyum getir bahwa dua media massa tersebut ditambah beberapa lainnya, harus tewas (korban mati ketawa cara Rus, eh, Indonesia). Maklum, sebelum era Reformasi bagi pers Indonesia sangat fobi dan seringkali dihantui istilah yang seperti momok atau hantu; yakni: Breidel atau cabut SIUPP!
Akhirnya kita berkesimpulan, kata GM Sudarta, setidaknya bagi diri sendiri, bahwa mawas diri dan tenggang rasa dalam penyampaian kriktik adalah perlu. Tidak usah presiden, menteri, jenderal, atau para pejabat lain, kita sendiri pun bila dikritik juga punya kecenderungan untuk marah. Apalagi kalau kritik itu destruktif, atau tajam menusuk.
Untuk menanggulangi hal yang tak diinginkan itu (bagaimana pun kita hidup di alam budaya timur, entah kalau barat), maka para kartunis menggunakan strategi tepo sliro, agar bisa membuat sebuah karikatur yang baik. Dalam arti, mempunyai kadar humor, kadar estetika gambar-menggambar, dan kadar pesan kritik. Serta kena sasaran, artinya misi yang disampaikan selamat ke tujuan, tidak ada beban saling curiga atas iktikad kritik tersebut. Sehingga hasil akhir dari strategi yang dimaksud adalah mampu menghadirkan senyum untuk semua. Baik yang mengkritik maupun yang dikritik, demikian pula masyarakat penikmat, terwakili aspirasinya.
Syarat itu cukup sulit dan absurd, tapi begitulah Indonesia di masa Orde Baru. Bila pers harus menjadi pers Pancasila, maka karikatur juga harus menjadi karikatur Pancasila.

Kartun Indonesia di tengah Peta Kartun Dunia
Barangkali terlampau riskan untuk menyebut kapan seni kartun masuk ke Indonesia. Sementara data yang ada hanya menyebut perkiraan tahun masuknya kartun ke Indonesia berkisar antara 20-an hingga 30-an. Ditandai dengan awal mula pergerakkan nasional lewat pengelompokan politik serta media massa.
Masa sebelum itu, Indonesia memang memiliki tradisi komik (cerita bergambar) atau sastra olok-olok (satire). Tetapi jenis seni kartun sebagaimana yang kita kenal saat ini belum menunjukkan tanda-tanda hadir sebelum tahun yang disebutkan di atas.
Pada tahun 30-an itulah koran mingguan Fikiran Rakyat mulai menampilkan gambar-gambar sindiran yang dalam masa sekarang corak gambar seperti itu lazim disebut sebagai karikatur (political cartoon).
Tradisi political cartoon di Indonesia barangkali lebih dominan hadir dibanding dengan jenis kartun yang lain. GM Sudarta menyebut, Bapak Karikaturis Indonesia adalah Bung Karno. Ini sangat beralasan. Karena pada masa itu, sejalan dengan semangat kebangsaan, gambar corak karikatur memang efektif untuk membangkitkan semangat rakyat. Kebangkitan nasional!
Lalu pada masa sesudah itu dikenal karikaturis-karikaturis Indonesia yang namanya tetap abadi di kalangan media massa. Seperti misalnya: Sibarani, Harmoko, Sam Suharto dan lain-lain, muncul di tahun limapuluhan. Kemudian pada masa bangkitnya Orde Baru dikenal nama-nama seperti: T. Sutanto, Sanento Yuliman, Hariadi S. Keulman, dan lain-lain.
Periode sesudah itu, kita kenal nama-nama karikaturis seperti misalnya: GM Sudarta, Pramono, Dwi Koendoro, Thomas Lionar, Priyanto S, Tony Tantra, Alex Dinuth, dan lain-lain


AyuWage Services - Get Paid to Visits Sites and Complete Surveys